Menetap di Hutan Lindung, Warga Wairbukan Andalkan Mete

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Selama menetap di dalam kawasan hutan lindung Egin Ilimedo, warga kampung Wairbukan di Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengandalkan hasil panen jagung dan padi ladang untuk dikonsumsi.

Ketua RT 17 Kampung Wairbukan, Desa Wairteran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui di Kota Maumere, Senin (12/10/2020). Foto : Ebed de Rosary

Sebanyak 47 Kepala Keluarga (KK) tersebut pun menanam tanaman perkebunan seperti pisang, kelapa dan kemiri namun jumlahnya terbatas sehingga warga mengandalkan hasil jambu mete untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Kami hanya mengandalkan hasil mete untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena harga jualnya pun lumayan bagus,” kata Bernadus Brebo, Ketua RT 17 Kampung Wairbukan, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT, saat ditemui Cendana News di Maumere, Senin (12/10/2020).

Bernadus katakan, hasil panen padi ladang dan jagung untuk dikonsumsi sendiri karena jumlahnya pun tidak banyak sebab rata-rata para petani hanya memiliki lahan pertanian seluas satu hingga dua hektare.

Disebutkan, pada lahan pertanian tersebut juga ditanami dengan jambu mete dengan jarak antar pohon sekitar 5 meter sehingga di sela-sela tanaman mente masih bisa dipergunakan menanam padi dan jagung.

“Selain di kebun, tanaman jambu mete juga ditanam di sekitar halaman rumah sebagai pohon peneduh dan buahnya bisa menghasilkan uang. Warga juga memelihara ternak seperti babi, kambing dan ayam untuk dijual menambah penghasilan,” ujarnya.

Bernadus mengaku selain jambu mete, warga juga menanam kemiri dan kelapa namun kelapa hasilnya kurang bagus dan buahnya kecil.

Ia jelaskan, warga menanam tanaman perkebunan yang hanya bisa diambil buahnya saja karena pohonnya tidak boleh ditebang untuk dipergunakan karena dilarang.

“Untuk menebang pohon membangun rumah atau fasilitas umum kami harus meminta izin dahulu dari Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan (UPT KPH) Kabupaten Sikka,” terangnya.

Sementara itu Kepala Kantor Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan (UPT KPH) Kabupaten Sikka, Benediktus Hery Siswadi membenarkan terkait warga yang banyak menanam tanaman mente di dalam kawasan hutan lindung.

Hery katakan, untuk Desa Wairterang selain Kampung Wairbukan, ada Kampung Leng dan Kokonpuat yang warganya tinggal di dalam kawasan hutan lindung dan semuanya menanam tanaman jambu mete.

“Tanaman jambu mete memang cocok dengan kondisi lahan di kampung tersebut. Namun seringkali hasil berkurang karena sangat tergantung kepada curah hujan dan tidak boleh ada angin kencang,” ucapnya.

Hery mengaku warga di ketiga kampung ini pun tidak berani menebang pohon dan kayu di dalam kawasan hutan lindung sekitar tempat tinggal mereka tanpa ada izin dari pihaknya.

Dirinya mengaku warga memang sangat koorperatif dan bekerjasama sehingga selalu menjaga hutan dan mata air sehingga air di kampung mereka melimpah dan tidak pernah kering.

“Kami memang selalu membagi tanaman perkebunan kepada warga di dalam kawasan hutan baik hutan lindung maupun hutan produksi untuk ditanam agar bisa dinikmati hasilnya untuk menambah penghasilan mereka,” ucapnya.

Lihat juga...