Mengenal Budaya Ramah Lingkungan Lambanapu

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Selaras dengan alam, mungkin salah satu hal yang menonjol dari masyarakat Sumba Timur. Fakta ini bukan hanya sekedar dari testimoni orang yang datang berkunjung tapi juga dibuktikan berdasarkan penelitian secara arkeologi di Lambanapu, salah satu kabupaten di Sumba Timur.

Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Dr. I Made Geria, MSi menyatakan keselarasan dengan alam ini bisa terlihat dari beberapa kearifan lokal yang dipertahankan secara turun menurun oleh masyarakat Lambanapu.

“Salah satunya adalah sloka Lii Ndewa Lii Pa Homba, yang secara umum diartikan sebagai tindakan memanfaatkan sumber alam yang ada dengan mempertimbangkan akal budi dan etika,” kata Made Geria dalam talkshow online, Minggu (25/10/2020).

Karena, lanjutnya, bagi masyarakat Sumba Timur atau secara spesifik di Lambanapu sumber alam bukan hanya benda mati. Tapi memiliki nilai dan sederajat dengan kehidupan manusia.

“Kehidupan harmoni inilah yang menjadi dasar pijakan masyarakat Sumba untuk menjaga aktivitas warganya agar tetap menjaga alam dan menurunkannya dari generasi satu ke generasi selanjutnya,” urainya.

Tanpa teori, masyarakat Sumba melakukan konservasi hanya dengan kesadaran bahwa jika mereka melakukan eksploitasi alam secara berlebih maka akan menyebabkan kerusakan pada alam sekitar mereka. Mereka menyadari sepenuhnya untuk menjaga kelestarian alam maka perlu melakukan solidaritas kosmis dan menghargai alam.

“Contoh lainnya yang menunjukkan keselarasan dengan alam adalah pada wastra leluhur Sumba yang berpatokan pada penghormatan pada ekosistem dan menunjukkan ekuilibrium. Wastra itu bukan hanya sekedar kain tapi merupakan pola pikir, simbol-simbol ritual dan upaya melestarikan ekosistem dalam upaya menciptakan keseimbangan manusia dengan alam,” kata Made Geria lebih lanjut.

Saat melakukan pewarnaan, ia menyebutkan, para perempuan Sumba akan menggunakan bahan pewarna alami, yang merujuk pada konservasi plasma nutfah.

“Logikanya, kalau kita membutuhkannya untuk kebutuhan kita sehari-hari maka perlu bagi masyarakat membudidayakannya. Sehingga saat mereka membutuhkan, tanaman itu akan tersedia,” ujarnya.

Atau jika melihat pakaian adat Lambanapu, yang menunjukkan kaki penggunanya, seperti suatu pernyataan bahwa orang tersebut adalah seorang pejuang tangguh dan memiliki fisik yang sehat.

Arkeolog Prof.Dr. Harry Truman Simanjuntak saat talkshow online Peradaban Lambanapu, Minggu (25/10/2020) – Foto Ranny Supusepa

Dari sisi arkeologi, Arkeolog Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak menegaskan, data penelitian memang menunjukkan bahwa masyarakat Sumba Timur atau dalam hal ini secara khusus masyarakat Lambanapu memang menyelaraskan setiap aktivitas dengan alam.

“Jika melihat pada situs Lambanapu yang berlokasi 7 kilometer arah selatan Waingapu, di sebuah tebing dan di aliran sungai tua Lambaniru maka bisa disimpulkan bahwa mereka memilih lokasi tempat tinggal di mana ada air,” kata Truman dalam kesempatan yang sama.

Dari cara mereka membangun rumah yang linear dengan aliran sungai, juga menunjukkan kearifan lokal mereka dalam menempatkan diri dengan keberadaan alam.

“Bukti selaras dengan alam bukan hanya pada rumah tapi juga pada banyak aktivitas masyarakat lainnya, seperti peletakan Katoda atau pada upacara penguburan. Jadi, dari data arkeolog yang kita temukan memang menunjukkan bahwa keselarasan dengan alam ini sudah dilakukan sejak dahulu kala dan masih terus dilakukan hingga saat ini,” pungkasnya.

Lihat juga...