Mengurangi Sampah Residu Sebagai Wujud Aktif Menjaga Lingkungan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Masalah sampah, bukan hanya dihadapi oleh Indonesia tapi oleh seluruh dunia. Karena masih banyak orang yang tidak memahami apa  mereka dan bagaimana mengelolanya. Terutama tentang mengurangi sampah residu.

Tiza Mafira, SH, LL.M sebagai penggerak komunitas Indonesia Diet Kantong Plastik menjelaskan dalam pengaplikasian pengelolaan sampah 3R (Reuse-Reduce-Recycle), yang terpenting adalah reduce atau mengurangi.

“Untuk tahu yang mana yang harus dikurangi dan memahami mengapa itu harus dikurangi, kita harus melakukan pemilahan. Yang mana bisa dibagi tiga. Yaitu organik yang merupakan bekas makanan atau bisa dikatakan asalnya dari benda hidup. Anorganik yang merupakan benda mati dan residu,” kata Tiza saat talkshow online tentang sampah, Sabtu (31/10/2020).

Kalau sudah dilakukan pemilahan, lanjutnya, baru terlihat mengapa sampah residu itu memang harus dikurangi penggunaannya.

“Tidak seperti organik yang bisa diolah menjadi pupuk di Composting Facility atau anorganik yang bisa diolah menjadi bahan lainnya, sampah residu ini akan langsung masuk ke penampungan akhir,” urainya.

Yang termasuk dalam residu ini, menurut Tiza bisa dibagi menjadi tiga. Yaitu sanitasi, dapur dan kamar mandi serta sampah dapur sisa makanan.

“Apa itu sampah sanitasi? popok, pembalut, perban dan tensoplast adalah contohnya. Ini tidak bisa diolah lagi. Satu-satunya cara hanyalah mengurangi jumlahnya semaksimal mungkin,” ucapnya.

Misalnya, jika memiliki anak bayi, maka kurangi pemakaian popok sekali pakainya. Selain mengurangi jumlah sampah residu, juga bisa mengurangi potensi ruam pada kulit bayi.

“Atau seperti pembalut wanita. Saya tidak menggunakan yang pembalut sekali pakai. Saya pakai yang bisa dicuci, sehingga tidak akan menambah jumlah sampah residu,” imbuhnya.

Untuk sampah dapur dan kamar mandi contohnya adalah tissue, kapas, cotton bud, sachetan shampo atau sabun, kertas yang berlapis minyak.

“Ini juga harus dikurangi. Batasi penggunaan tissue yang tidak perlu. Sebaiknya sediakan handuk ukuran kecil untuk melap tangan usai aktivitas di kamar mandi. Pastikan apa yang kita gunakan itu bisa digunakan berkali-kali, Jangan hanya satu atau dua kali lalu dibuang,” ujarnya.

Contohnya, kantong plastik. Jika hanya digunakan untuk menampung belanjaan sekali lalu digunakan sebagai tempat sampah, itu belum mengurangi jumlah sampah plastik.

“Kantong plastik itu didesain untuk memiliki kekuatan yang bertahan lama. Sangking kuatnya, akhirnya alam pun membutuhkan waktu lama untuk mendaur secara alamiah. Jadi, pergunakan satu kantong plastik secara ratusan kali untuk memastikan kita mengurangi jumlah di rumah kita sendiri,” ujar Tiza lagi.

Untuk memastikan pengelolaan ini bisa dilakukan di tingkat rumah tangga, Tiza menegaskan perlunya edukasi kepada setiap anggota rumah tangga.

“Jadi tidak hanya kita sebagai ibu rumah tangga. Tapi kita menjelaskan kepada anak kita, membiasakan mereka dari kecil untuk memahami bahwa setiap barang yang mereka pergunakan berpotensi menjadi sampah. Sehingga mereka harus berhati-hati dalam memiliki sebuah barang,” paparnya.

Termasuk juga, bagi yang menggunakan jasa asisten rumah tangga,Tiza menyebutkan edukasi sampah ini juga harus disampaikan kepada asisten rumah tangga.

“Karena mereka mengambil peran dalam aktivitas rumah tangga, terutama biasanya urusan dapur dan anak, maka edukasi kepada mereka sangat penting. Sehingga mereka juga bisa menjadi bagian dari pemilahan sampah di rumah tangga. Lebih baik lagi, jika mereka bisa mempraktekkannya di rumah mereka sendiri,” pungkasnya.

Lihat juga...