Meski Kemarau, Hasil Panen Padi di Purbalingga Meningkat

Editor: Koko Triarko

PURBALINGGA – Selama bulan September lalu, panen padi di Kabupaten Purbalingga memgalami peningkatan. Meskipun dibayangi kemarau, namun luasan lahan yang panen bisa mencapai 3.775 hektare. Luasan panen tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya3.414 hektare. Bahkan pada bulan Juli lalu, luasan lahan yang panen hanya 1.809 hektare.

Kepala Dinas Peranian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Mukodam ,mengatakan untuk bulan Oktober ini sebagian besar petani baru mulai menanam padi, dan ada juga yang mengolah sawah.

“Puncak panen di Kabupaten Purbalingga sudah bulan April-Mei lalu, setelah itu produktivitas panen menurun. Tertinggi pada April, luasan panen mencapai 4.783 hektare dan Mei seluas 3.934 hektare,” jelas Mukodam, Senin (26/10/2020).

Kepala Dinas Peranian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Mukodam di Purbalingga, Senin (25/10/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Sedangkan untuk bulan September lalu, kecamatan yang paling banyak panen adalah Kecamatan Kemangkon dan Bukateja. Di Kecamatan Kemangkon, lahan yang panen mencapai 609,8 hektare dan di Bukateja ada 505,1 hektare. Dan, produktivitas panen yang paling sedikit adalah Kecamatan Pengadegan yang hanya 12,4 hektare.

Meskipun begitu, Mukodam menyatakan produksi panen sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pangan di Purbalingga, bahkan bisa surplus. Dengan asumsi, produktivitas rata-rata 54,53 ton per hektare dan rendemen menjadi beras 64,02 persen.

“Dari hasil panen masa tanam (MT) 1 saja, kita surplus, bulan Januari-April 2020 luasan panen 8.959,9 hektare dengan produksi GKG 48.858, 3 ton, setara beras 31.279 ton. Dan, jumlah penduduk Kabupaten Purbalingga sebanyak 955.875 jiwa, dengan konsumsi beras 93,5 kg/kapita/tahun, maka konsumsi untuk empat bulan, yaitu Januari-April 2020, rata-rata 31,16 kg per kapita. Sehingga kebutuhan beras untuk penduduk Kabupaten Purbalingga mulai bulan Januari-April 2020 sebanyak  29.784 ton, sehingga masih surplus,” terangnya.

Sementara itu, salah satu petani di Purbalingga, Asep, mengatakan, hasil panen kali ini sedikit menurun dibanding panen lalu. Dampak dari kemarau, hasil panen rata-rata di bawah 5 ton per hektare. Padahal, pada musim tanam sebelumnya, lahan yang ia garap bisa menghasilkan padi hingga 5,5 ton per hektare.

“Panennya menurun, tidak ada yang mencapai 5 ton per hektare, karena kita sempat mengalami kesulitan air akibat kemarau, dan itu terjadi saat usia padi baru 1-2 bulan, sehingga hasil panen kurang maksimal,” tuturnya.

Kondisi tersebut dialami hampir merata oleh petani di Kabupaten Purbalingga, mengingat sebagian besar sawah mereka merupakan sawah tadah hujan.

Lihat juga...