Mewaspadai Hadirnya Hepatitis B dan Hepatitis C

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Hepatitis, sering sekali diucapkan oleh masyarakat. Namun banyak yang tidak menyadari, Hepatitis adalah salah satu penyakit yang menyumbang kematian dalam jumlah signifikan. Tercatat, di dunia Hepatitis menyumbang 1 juta kasus kematian setiap tahunnya.

Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan menunjukkan, kasus Hepatitis B mencapai 16.077 kasus di Jawa Timur, 15.174 kasus di Jawa Tengah dan 10.669 di DKI Jakarta (2018). Wilayah tersebut menjadi tiga provinsi dengan jumlah kasus terbesar. Sementara, untuk Hepatitis C pada tahun yang sama, peringkat pertama diduduki DKI Jakarta dengan 5.164 kasus, diikuti Jawa Timur dengan 2.395 kasus dan di Jawa Tengah 2.338 kasus.

Direktur Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan (Kemkes), Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, berdasarkan penularannya Hepatitis terbagi dalam dua jenis. Yaitu yang menular lewat makanan atau lebih biasa disebut Hepatitis A dan yang menular lewat darah atau biasa disebut Hepatitis C dan B.

Direktur Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan (Kemkes) Siti Nadia Tarmizi saat dihubungi, Sabtu (31/10/2020) – Foto Ranny Supusepa

“Karena Hepatitis ini disebabkan oleh virus, sebenarnya bisa sembuh dengan sendirinya. Tapi jika jumlah virusnya terlalu banyak, maka bisa menyebabkan kematian. Seperti kasus KLB Hepatitis A tahun lalu di Jawa Timur. Yang menjadi program nasional pemerintah adalah Hepatitis C dan Hepatitis B karena penularannya melalui darah,” kata Siti Nadia, Sabtu (31/10/2020).

Hepatitis B dan Hepatitis C disebut Siti Nadia, prevalensinya mencapai satu hingga dua persen secara berurut. “Hepatitis C ini cenderung menjadi Hepatitis kronis, yang berakhir dengan serosis dan kanker hati. Ini lah yang kita khawatirkan. Karena dengan adanya penyakit pada diri seseorang, maka ia bisa menularkannya. Atau dalam kasus wanita, ia bisa menularkan kepada anaknya,” urainya.

Atau jika penderita melakukan transfusi darah atau menggunakan jarum suntik yang sama, maka potensi penularan akan terbuka lebar. “Kalau Hepatitis B belum ditemukan obatnya, hanya bisa dicegah dengan vaksinasi, yang sudah masuk program imunisasi nasional. Sementara Hepatitis C sudah ada obatnya, yaitu sofosbuvir dan dafastavir yang keduanya sudah disiapkan oleh Kemkes,” ucapnya.

Untuk layanan Hepatitis C, Siti Nadia menyebut sudah ada 37 rumah sakit di 15 provinsi Indonesia yang bisa melayani. “Kenapa harus di rumah sakit? Karena memang Hepatitis ini membutuhkan spesialis penyakit dalam khusus Hati. Jadi bukan hanya obat saja, tapi harus ada pemantauan selama paling tidak 24 minggu. Jika disiplin maka pasiennya akan sembuh sempurna,” jelasnya.

Tanpa adanya faktor perilaku berisiko, belum ada catatan adanya kekambuhan pada pasien yang pernah mengidap Hepatitis C. Dan untuk Hepatitis B, vaksinasi yang dipenuhi akan mampu melindungi seseorang dari inveksinya. “Hepatitis memang berbahaya. Tapi dengan melakukan tindakan pencegahan, maka sebenarnya semua bisa diatasi. Vaksinasi, deteksi dini dan terapi hepatitis, itu kuncinya,” ujar Siti Nadia.

Kemkes memiliki target untuk Hepatitis B di 2022 tidak ada lagi kasus transmisi vertikal ibu ke anak. Dan untuk Hepatitis C, prevalensi-nya berkurang dari satu persen. “Saat ini, prevalensi Hepatitis C masih di atas dua persen. Kemkes sangat mengupayakan, agar target ini bisa tercapai dalam target waktu yang ditentukan,” pungkasnya.

Lihat juga...