Modal Terbatas Bisnis Barang Bekas, Potensi Omzet Jutaan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Heri, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, memilih bisnis rongsokan atau barang bekas sebagai sumber penghasilan.

Dia biasa mendorong gerobak miliknya menyusuri jalan-jalan memunguti sampah plastik, botol air mineral, dan kardus yang bernilai jual.

Pekerjaan yang kerap enggan dipilih nyatanya jadi sumber penghidupan bagi keluarganya. Heri bilang tak pernah malu menyebut pekerjaannya sebagai tukang rongsok. Usaha paling logis dan bisa dilakukan olehnya sejak belasan tahun silam.

Sebab jika ingin bertani ia tak memiliki sepetak lahan untuk digarap. Bermodalkan uang Rp100.000 ia membuat gerobak dorong dari kayu dan ban sepeda.

Ia memilih sejak pagi langsung menuju ke titik pembuangan sampah. Lokasi pembuangan sampah liar di tepi Sungai Tuba Mati, perbatasan Desa Pasuruan dan Banjarmasin kerap jadi tujuan awal. Sebab lokasi itu menjadi tempat warga membuang berbagai jenis sampah rumah tangga. Jika beruntung botol plastik, kertas, besi, alumunium bisa diperoleh.

“Saat ini pekerjaan mencari rongsokan mulai banyak ditekuni orang istilahnya banyak saingan, maka harus rajin bangun pagi agar lebih dahulu menuju ke lokasi pembuangan sampah untuk mendapatkan barang bekas bernilai jual,” terang Heri saat ditemui Cendana News di Banjarmasin, Selasa (6/10/2020).

Heri menyebut, telah dikenal oleh warga sebagai pencari rongsokan. Hal itu menguntungkan baginya karena sebagian warga yang memiliki sampah bernilai jual kerap memberikan secara cuma-cuma. Sebagian dibelinya sesuai jenis sampah mulai dari kertas, besi, botol, tembaga. Mulai harga Rp1000 hingga Rp60.000 per kilogram. Sekali jalan ia membawa modal Rp400.000 untuk membeli rongsokan.

Modal awal saat berkeliling sebutnya kerap tidak habis, pasalnya ia dominan mendapat sampah di jalan. Menyusuri Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) jadi penyumbang hasil rongsokan. Sebab pengguna jalan kerap membuang sampah dari kendaraan. Saluran irigasi terhubung ke permukiman warga juga jadi sasarannya mencari rongsokan.

“Tengah hari saya sudah pulang untuk menyortir karena biasanya rongsokan masih campur aduk dan dipisah berdasarkan bahan masing-masing,” cetusnya.

Heri menyebut, modal awal mencari rongsokan kerap dipinjam dari pengepul. Sistem pembayaran hutang disebutnya dilakukan dengan cara mengangsur sembari menjual hasil rongsokan. Meminjam Rp1 juta ia menyebut, bisa mengangsur Rp100.000 setiap menjual rongsokan. Sepekan sekali pengepul datang untuk menimbang rongsokan dengan hasil rata-rata Rp2 juta.

Simbiosis mutualisme antara pengepul dan pencari rongsok sebut Heri, sudah berlangsung puluhan tahun. Tanpa adanya relasi tersebut ia akan kesulitan menjual hasil rongsokan.

Sistem kepercayaan bahkan menjadikan usaha yang dijalankannya tetap berjalan hingga kini. Pengepul yang akan melakukan pengiriman barang rongsokan ke pabrik daur ulang.

“Jika dirata-rata semakin rajin mencari sampah bernilai jual, hasil saya bisa jutaan rupiah per pekan,” cetusnya.

Pencari rongsokan lainnya bernama Sahuri, memilih mengajak serta anak dan istri untuk mencari barang rongsokan. Sebelumnya ia kerap menjadi buruh tani, namun selama kemarau warga Desa Tarahan, Kecamatan Katibung itu, memilih menjadi pencari rongsokan. Usaha tersebut hanya butuh modal siap berkeliling ke sejumlah lokasi pembuangan sampah.

Sahuri, warga Desa Tarahan, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan, memanfaatkan sejumlah sampah plastik bernilai jual yang terdampar di pantai untuk dijual. Selama pandemi Covid-19 usaha rongsokan jadi pilihan menghasilkan uang, Selasa (6/10/2020) – Foto: Henk Widi

Lokasi tepi pantai jadi tempat favoritnya, terutama di dekat objek wisata. Sebab jenis sampah botol plastik air mineral kerap dibuang pada tempat sampah. Ia bisa mendapatkan ratusan kilogram botol plastik. Harga jual Rp1000 per botol sebagian hingga Rp4.000 memberinya hasil ratusan ribu. Selain itu jenis rongsokan besi, aluminium kerap diperolehnya.

“Barang rongsokan yang nilai jualnya lebih mahal kerap bisa diperoleh saat memulung sehingga pendapatan bisa lebih banyak,” cetusnya.

Pencari rongsokan lainnya, Ikbal, warga Desa Kelau, Kecamatan Penengahan, memilih mencari jaringan dengan berkeliling ke setiap rumah warga. Ia telah memiliki pelanggan hingga ratusan orang yang akan menjual rongsokan kepadanya. Rata-rata setiap rumah bisa menjual rongsokan bernilai puluhan hingga ratusan ribu. Jenis kertas, gelas minuman bekas paling banyak diperoleh.

“Saya menerapkan strategi memberikan uang muka sehingga barang selalu dijual kepada saya,” terang Ikbal.

Ikbal menyebut, kesadaran warga memilah sampah semakin meningkat. Sebab dibanding harus dibuang sembarangan, sampah bernilai jual berpotensi menghasilkan uang. Warga akan melakukan penyortiran sampah sesuai jenisnya. Ia bahkan telah menyiapkan karung untuk tempat menyimpan sampah sebelum ditimbang sepekan sekali.

Ikbal, warga Desa Kelau, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, membeli sampah bernilai jual dari rumah warga untuk selanjutnya dijual, pekerjaan tersebut jadi sampingan selain sebagai petani, Selasa (6/10/2020) – Foto: Henk Widi

Suminah dan sang suami bernama Joko, memilih mencari rongsokan dengan menyewa mobil. Sebelumnya ia bisa bekerja sebagai petani namun imbas kemarau ia memilih mengistirahatkan lahan. Memanfaatkan mobil sewa dari sang adik ia berkeliling mencari barang rongsokan ke sejumlah desa hingga ke kecamatan lain.

“Kami mencari peluang usaha yang bisa menghasilkan uang saat pandemi Covid-19 ini dan mencari rongsokan jadi pilihan,” bebernya.

Berkeliling ke sejumlah desa untuk mencari rongsokan sebut Suminah, kerap dilakukan seharian penuh. Menggunakan mobil membuat warga Bakauheni itu bisa mendapatkan sampah bernilai jual lebih banyak. Jika dikumpulkan dalam sebulan hasil yang diperoleh bisa puluhan juta dari menjual rongsokan ke pengepul.

Jenis besi, aluminium, banyak diperoleh dari warga. Rongsokan besi kerap diperoleh dari bekas rangka kapal rusak dan bekas bongkaran bangunan.

Lokasi di dekat pelabuhan sekaligus memungkinkannya memiliki pelanggan tetap. Pelanggan tetap merupakan pencari sampah botol plastik dari kapal lintas Merak-Bakauheni yang rutin setiap jam membongkar muatan sampah.

Lihat juga...