MUI Dorong KNEKS Mengarusutamakan Standar Halal Indonesia

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mengarusutamakan atau mainstreaming standar halal Indonesia untuk kepentingan global.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni’am Sholeh menegaskan, bahwa halal menentramkan sifatnya universal apalagi di tengah masyarakat global yang sangat terbuka.

“Halal sekarang telah menjadi tren global, tetapi tidak semua masyarakat tercerahkan,” ujar Ni’am, saat dihubungi Cendana News, Kamis (29/10/2020).

Sehingga menurutnya, perlu pemahaman literasi dan edukasi bagi produsen dan masyarakat terkait pentingnya halal. Diharapkan masyarakat juga ware dan memiliki kontrol sosial terhadap produk-produk yang dikonsumsinya.

Dalam kaitan komunikasi international, Ni’am juga berharap Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) dan Bank Indonesia (BI) untuk mengarusutamakan isu halal di dalam kontek pergaulan global.

Ini menurutnya sangat penting, sehingga kemudian Indonesia dinilai memiliki konsen dan komitmen untuk mengarusutamakan di bidang halal.

Mainstreaming standar halal Indonesia untuk kepentingan standar halal global,” ujar Ni’am.

Karena menurutnya lagi, seringkali ketika kita berbincang soal standar international itu cenderung berpikir menggunakan benchmark atau mengadopsi standar dari luar negeri.

“Nah, sekarang kabar baiknya setelah 31 tahun MUI mendelegasikan diri untuk kepentingan halal. Ini sudah bergabung 55 anggota lembaga sertifikasi halal luar negeri dari 26 negara di dalam World Halal Food Council (WHFC),” ujarnya

Mereka 55 anggota tersebut beradaptasi dan mengadopsi Sistem Jaminam Halal (SJH) Indonesia melalui standar fatwa yang telah ditetapkan oleh MUI.

“Ini saya kira kabar baik bagaimana kemudian kita me-mainstreaming mengarusutamakan standar fatwa Indonesia didalam hal ini yang ditetapkan oleh MUI sebagai salah satu  benchmark, bahwa standar halal kita sudah diterima di tingkat internasional,” urainya.

Namun demikian tentu menurutnya, kita jangan berpuas diri, di tengah komitmen untuk melakukan penataan kelembagaan  agar market industri halal itu bisa menjadi besar.

Sehingga komitmen Indonesia menjadi pusat halal dunia ini bisa terwujud. Maka menurutnya, bagaimana inisiasi-inisiasi untuk mengarusutamakan standar fatwa Indonesia. Juga mengarusutamakan bahwa Indonesia tidak hanya sekadar kekuatan penduduk muslim secara potensial pasar terbesar dunia.

“Tetapi bagaimana juga melakukan langkah-langkah ofensif memproduksi produk halal yang kemudian kita pasarkan ke luar negeri,” pungkasnya.

Lihat juga...