Musim Pancaroba, Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem di Jateng

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan hingga akhir Oktober 2020, periode peralihan musim (pancaroba) dari kemarau ke penghujan masih berlangsung, dengan kondisi hujan tidak merata dapat terjadi dengan intensitas sedang hingga lebat, dalam durasi singkat.

“Pada masa peralihan musim ini, perlu diwaspadai potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam durasi singkat, yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang, hingga angin puting beliung,” papar Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Kelas 1 Semarang, Iis Widya Harmoko, saat dihubungi, Rabu (14/10/2020).

Tidak hanya itu, dari pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan bahwa anomali iklim La Nina sedang berkembang, berpotensi memicu terjadinya bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor.

“Sementara, untuk periode awal musim hujan, sekitar akhir Oktober hingga November 2020. Diperkirakan curah hujan dasarian II Oktober 2020 di wilayah Jateng pada kriteria menengah antara 51 – 100 mm,” paparnya.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Kelas 1 Semarang, Iis Widya Harmoko, saat dihubungi, Rabu (14/10/2020). -Foto Arixc Ardana

Cakupannya meliputi  wilayah Kabupaten Jepara dan Rembang, sebagian besar Kudus, sebagian Blora, sebagian wilayah selatan Wonogiri, sebagian kecil wilayah utara Demak.

Sedangkan, pada dasarian III Oktober 2020, curah hujan dalam kriteria menengah sudah terjadi di hampir seluruh wilayah Jateng. Kecuali  Rembang, sebagian besar wilayah Wonogiri dan Kota Semarang, sebagian Demak, Jepara, Pati, sebagian wilayah utara Brebes dan Kendal.

Hal senada disampaikan, analis cuaca Stasiun BMKG Kelas II Ahmad Yani Semarang, Anis Tia. Dipaparkan, berdasarkan data selama empat hari terakhir, sejak Senin (12/10/2020) kecepatan angin di Kota Semarang, terpantau mencapai 15 knot atau berkisar antara 10-30 kilometer per jam.

“Selama masa transisi menuju musim penghujan atau musim pancaroba, angin kencang yang muncul dengan durasi singkat sering terjadi, sehingga kita mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada. Termasuk bagi pengguna jalan,  sebab angin kencang ini juga bisa berpotensi mengakibatkan pohon tumbang. Termasuk adanya kemungkinan terjadi jadi puting beliung,” terangnya.

Dipaparkan, peningkatan kecepatan angin terjadi dari arah Timur hingga Selatan, dengan kemunculan antara pukul 10.00 WIB -13.00 WIB. “Meski demikian, waktu angin kencang ini setiap hari selalu bervariatif. Untuk itu, kita imbau masyarakat untuk selalu waspada,” tandasnya.

Potensi angin kencang tersebut, juga diakui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang. Dari data mereka, setidaknya sudah ada enam pohon tumbang sejak Senin (12/10/2020) lalu.

“Dari catatan kita, sudah ada enam titik lokasi pohon tumbang akibat hujan disertai angin kencang yang terjadi di Kota Semarang, sejak Senin lalu. Pohon tumbang tersebut menutup akses jalan, diantaranya di Jalan Pahlawan, Veteran, Menteri Supeno, Durian Raya, Jenderal S Parman hingga jalan Wungkal,” papar Kepala Disperkim Kota Semarang, Ali.

Mengantisipasi potensi pohon tumbang akibat angin kencang disaat musim pancaroba seperti sekarang ini, pihaknya  melakukan perempelan atau pemangkasan dahan pohon yang sudah mulai lebat. Termasuk memotong pohon yang dinilai rawan roboh.

“Antisipasi sudah kami lakukan, mulai dari perempelan hingga pemotongan, terutama untuk pohon yang sudah tua, lapuk atau terlalu menjorok ke jalan raya,” tandasnya.

Di satu sisi, pihaknya juga melakukan kajian sesuai kondisi di lapangan sebelum melakukan pemotongan pohon. Tujuannya agar dari segi estetika dan fungsi pohon sebagai peneduh tidak hilang. “Kita imbau pengguna jalan untuk berhati-hati dan waspada, terlebih saat hujan deras disertai angin kencang,” pungkas Ali.

Lihat juga...