Nikmati Lezatnya Ikan yang Dibakar di Dalam Bambu

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Bagi masyarakat Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menu makanan yang dimasak dengan cara dibakar di dalam bambu saat ini jarang ditemukan padahal rasanya tergolong lezat.

Masakan di dalam bambu ini masih jarang dibuat dan dijual kepada masyarakat umum sehingga peluang ini coba dimanfaatkan seorang pramuwisata yang sepi pekerjaan akibat merebaknya pandemi Corona.

“Orang tua saya sering membuat masakan tuir ikan.  Kami pun sejak kecil selalu mengonsumsi. Saya mencoba membuat dan menjual aneka masakan dari bambu,” sebut penjual kuliner Maria Yasinta Nenti, saat ditemui Cendana News di rumahnya di Kompleks Cemara, Gang IV, Belakang Bhaktyarsa, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Sabtu (17/10/2020).

Salah seorang penjual makanan tradisional Kabupaten Sikka, NTT, Maria Yasinta Nenti, saat ditemui di rumahnya di Centrum Gang IV, Kota Maumere, Sabtu (17/10/2020). Foto: Ebed de Rosary

Nenti menyebutkan, pertama-tama harus menyiapkan bambu berukuran agak besar dengan jarak antar-ruas sekitar 65 sentimeter. Bambu tersebut pun dipotong sesuai jarak ruas.

Ia melanjutkan, sesudahnya bambu dibersihkan bagian dalam menggunakan daun kelapa. Sambil dicuci dengan air hingga bagian dalamnya benar-benar bersih dan siap digunakan.

“Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat tuir ikan, pertama pilih ikan yang hendak dipergunakan. Lalu dicuci bersih dan dipotong untuk diambil bagian daging,” jelasnya.

Nenti menjelaskan, siapkan bumbu berupa bawang merah, bawang putih, kunyit, halia merica, lombok, daun kemangi, minyak kelapa dua sendok, dan daun gosa gora untuk pengganti asam.

Dikatakannya, daun gosa gora ini hanya ada di wilayah Desa Pogon, Kecamatan Waigete dan sekitarnya. Dalam membuat tuir ikan rasanya lebih lezat bila menggunakan daun ini.

“Proses pembuatannya, pilih kelapa yang setengah tua, lalu dikukur bukan diparut. Haluskan semua bumbu tersebut dan campur dengan minyak kelapa. Lalu masukkan kelapa sambil ditambahkan sedikit air dan aduk hingga merata,” terangnya.

Ia melanjutkan, campur semua bumbu yang sudah merata tadi dengan daging ikan. Masukkan ke dalam ruas-ruas bambu yang telah dipotong tersebut dan tutup bagian atas bambu dengan daun jeruk.

“Setelah itu bakar bambu tersebut dengan api yang nyalanya tidak terlalu besar agar bambu tidak cepat hangus dan masakan bisa matang merata. Setelah matang baru diangkat dan dikeluarkan dari bambu bila hendak dimakan,” ungkapnya.

Nenti mengaku, menjual satu ruas bambu dengan porsi tiur ikan untuk disantap 5 sampai 6 orang dengan harga Rp50 ribu. Saat ini banyak masyarakat yang memesan setelah dipromosikan di media sosial.

Sekali proses sebutnya, bisa mencapai minimal 10 bambu dan dijual pada hari Senin, Rabu serta Sabtu. Sudah banyak pembeli yang suka sehingga yang tidak memesan terlebih dahulu sering tidak kebagian.

“Lumayan banyak masyarakat di Kota Maumere yang memesan masakan ini. Memang tidak setiap hari dibuat meskipun sudah banyak pembeli yang memesan,” ucapnya.

Maria Yuliana, salah seorang warga Kota Maumere mengaku, sering mencicipi masakan tersebut saat acara pesta di wilayah Kabupaten Sikka bagian tengah atau biasa disebut wolet.

Maria mengaku, masakannya lezat dan matangnya pun merata serta beda dengan yang dimasak di kuali. Dirinya pun kadang membeli tuir ikan untuk disantap saat akhir pekan bersama keluarga.

“Masakannya enak dan harganya pun tidak terlalu mahal. Satu ruas bambu tuir ikan bisa dimakan satu keluarga untuk sekali makan. Saya bersyukur ada yang menjual masakan ini,” ungkapnya.

Lihat juga...