Omset Turun Drastis, Pedagang Makanan Pilih Berjualan Layang-Layang

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Berbagai upaya dilakukan para pelaku UKM agar tetap bisa bertahan di masa-masa sulit ketika pandemi seperti saat ini. Selain harus pandai-pandai memanfaatkan peluang, mereka juga dituntut untuk cerdas melihat tren yang sedang berkembang.

Seperti dilakukan salah seorang pedagang makanan Warnida (50) asal Gedongkuning, Umbulharjo, Yogyakarta. Di saat omset warung makanannya menurun drastis, ia dengan cerdas membuka usaha baru yakni berjualan layang-layang.

Tren hobi bermain layang-layang yang muncul di kalangan masyarakat belakangan ini. Dibantu misan-nya yang memiliki keahlian, ia pun berdagang mainan tradisional itu di warung makan miliknya.

“Sudah sejak 3 bulan terakhir ini saya mencoba berdagang layang-layang. Karena kan saat ini sedang tren. Banyak masyarakat yang mencari. Kebetulan misan saya bisa membuat, jadi saya minta untuk membantu dan kerja sama,” katanya Selasa (06/10/2020).

Warnida mengaku dari hasil berjualan layang-layang itu, ia pun bisa mendapatkan pemasukan lumayan hingga mencapai Rp1 juta per hari. Ia sendiri mengatakan menjual berbagai jenis layang-layang dengan harga bervariasi mulai dari Rp25 ribu hingga Rp120 ribu.

“Sebagaian ada layang-layang yang kita buat sendiri, menggunakan bahan bambu dan plastik. Tapi ada juga sebagian layang-layang yang kita beli/kulakan dari pedagang lain. Seperti jenis layang-layang Bali yang terbuat dari bahan kain,” ungkapnya.

Dari hasil berjualan layang-layang itu, Warnida mengaku bisa menutup kerugian usaha warung makan miliknya selama beberapa bulan terakhir. Pasalnya sejak munculnya pandemi Covid-19, pada Maret 2020 lalu, omset usahanya menurun drastis hingga saat ini.

“Adanya pandemi ini benar-benar membuat usaha warung makan hancur. Dulu saat awal-awal Covid-19, omset menurun drastis. Hampir tidak pernah ada pembeli. Saat ini, meski sudah masuk masa new normal, omset tak juga membaik. Memang sedikit meningkat, namun hanya 1/4 dari omset biasanya,” ungkapnya.

Banyaknya masyarakat yang di PHK serta tak bisa bekerja, dinilai menjadi salah satu penyebab menurunnya omset usaha warung-warung makan di Yogyakarta. Selain karena daya beli masyarakat menurun drastis, pandemi juga turut mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan ke kota Gudeg, yang pada akhirnya berpengaruh pada perputaran ekonomi di masyarakat.

Lihat juga...