Pandemi Corona Pengembangan Kawasan Hortikultura di Kalbar, Dioptimalkan

PONTIANAK  – Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) Endang Kusumayanti, mengatakan, bahwa pengembangan tanaman hortikultura di Kalbar terus dimaksimalkan, meskipun dari sisi anggaran ada pemangkasan akibat dampak wabah COVID-19.

“Program pengembangan kawasan untuk tanaman hortikultura dianggarkan melalui APBD maupun APBN. Meski ada pemangkasan anggaran dampak pandemi COVID-19 melanda, Kalbar masih melanjutkan pengembangan kawasan hortikultura,” ujarnya di Pontianak, Sabtu.

Ia menyebutkan sejumlah komoditas masih menjadi fokus utama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar, meski ada yang dipangkas yakni pengembangan pisang di Kabupaten Kubu Raya.

Selain pisang, komoditas lainnya yang diprogramkan ke sejumlah daerah di Kalbar, antara lain nanas, sayuran-sayuran, sukun, jahe, cabai, bawang, dan lain sebagainya.

Meski begitu, diakuinya, ada sejumlah program yang terpaksa dikurangi anggarannya seperti pengembangan kawasan cabai yang volumenya berkurang jauh dari alokasi awal sebesar 505 hektare menjadi tinggal 5 hektare saja.

“Untuk kegiatan dari APBN, pisang dari 100 hektare juga hanya menjadi 47 hektare di Bengkayang,” ungkap dia.

Selain bantuan bibit, ada pula pemberian bantuan seperti sarana pascapanen, sarana pengolahan, bangsal pascapanen, solar dome, dan lain sebagainya. Upaya tersebut dilakukan guna memenuhi permintaan tanaman hortikultura di wilayah Kalbar. Pihaknya mengakui  masih ada beberapa komoditas yang belum mampu dipenuhi oleh para petani Kalbar, sebut saja cabai dan bawang.

“Karena itu kalau tidak mendatangkan dari luar (Kalbar) ketersediaannya tidak cukup untuk memenuhi permintaan,” katanya.

Secara umum, kata dia, realisasi program pengembangan hortikultura berjalan dengan baik meski di masa pandemi sekalipun. Kesejahteraan petani hortikultura dinilainya juga cukup baik, mengingat harganya tidak dibatasi seperti layaknya harga beras sebagai pangan. Jika permintaan tinggi, maka harganya bisa tinggi pula.

“Tinggal petani saja yang mesti bijak mengelola keuangan mereka, agar usaha mereka bisa bertumbuh,” katanya. (Ant)

Lihat juga...