Pandemi Corona tak Surutkan Petani Pessel Turun ke Sawah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PESISIR SELATAN – Saat musim hujan dan pandemi Covid-19 melanda wilayah Provinsi Sumatera Barat para petani memantapkan untuk turun ke sawah dan memulai menanam padi.

Kondisi ini terbilang masih normal, karena dalam perhitungan para petani di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) bahwa Oktober adalah awal untuk turun ke sawah dan diperkirakan di awal tahun sudah melakukan panen.

Seperti yang dikatakan, Isul, petani di Sutera, sebagian besar petani telah memulai membajak sawahnya dan mempersiapkan tempat penebaran benih padi. Diperkirakan di akhir bulan Oktober benih-benih padi itu sudah bisa ditanam.

“Sekarang itu rata-rata petani lagi membajak sawah, saya pun begitu sudah mulai membajak sawah menggunakan alat mesin dan tidak menggunakan bajak dari kerbau,” kata dia kepada Cendana News, Senin (5/10/2020).

Isul menyebutkan, diperkirakan ada dua bulan lamanya sawah yang biasanya dikelola bertanam padi dibiarkan tidur karena dua bulan lalu di Pesisir Selatan hujan yang turun belum merata. Sebab kebanyakan lahan di Sutera merupakan lahan tadah hujan.

Kini dengan telah masuknya bulan Oktober artinya musim hujan lagi turun dan kesempatan ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para petani untuk turun ke sawah. Aktivitas ini juga tidak terganggu sama sekali adanya Covid-19.

“Bagi kami di pedesaan seperti ini persoalan Covid-19 tidak begitu terdampak. Palingan dampak yang terasa itu soal harga gabah saja, dan kalau aktivitas petani tidak terganggu,” ujarnya.

Isul menyampaikan dengan kini telah dimulainya turun ke sawah maka diperkirakan pada awal tahun 2021 mendatang panen raya sudah bisa dilakukan, karena di Sutera itu sistem tanam padi dilakukan secara serentak.

Apalagi di Sutera terbilang memiliki hamparan sawah yang sangat luas yang diperkirakan mencapai ratusan hektar. Dengan artian bila nanti panen, turut memberikan dampak ekonomi yang bagus bagi para petani.

“Kalau masa tanam dimulai akhir bulan Oktober ini, maka panennya itu di awal tahun. Karena untuk memanen padi lamanya mulai dari 3-4 bulan,” jelas dia.

Isul berharap dengan dimulainya  panen raya di awal tahun 2021 kondisi pandemi Covid-19 pun berakhir. Sehingga harga gabah padi pun berada di angka yang memberikan keuntungan bagi petani.

Sebab bila melihat pada kondisi musim tanam beberapa bulan yang lalu, harga gabah di Sutera terbilang sangat anjlok, sehingga membuat patani sulit memperoleh keuntungan. Semua itu dampak dari kondisi pandemi Covid-19.

Sementara itu, melihat para petani yang sudah mulai turun ke sawah, Badan Urusan Logistik (Bulog) Wilayah Sumatera Barat menyatakan dengan telah turunnya petani ke sawah, merupakan sebuah kabar baik karena akan turut berpengaruh kepada stok beras yang ada di Bulog.

“Ini hal baik, supaya serapan beras lokal bisa lebih baik. Sebab bila melihat pada total serapan beras lokal komersil yang dilakukan Bulog Sumatera Barat sejak Januari hingga Agustus 2020 masih berada di angka 2 ribu ton dan jumlah itu masih rendah,” kata Kepala Bulog Wilayah Sumatera Barat, Tommy Despalingga, secara terpisah.

Hingga sekarang stok beras yang ada di gudang Bulog Sumatera Barat tersedia sebanyak 11.000 ton. Stok yang ada itu  disalurkan untuk sejumlah kebutuhan yang telah dialokasikan.

Ia menyebutkan dari jumlah KPM-PKH yakni 182.092 jiwa itu akan mendapatkan masing-masing penerima  15 kilogram beras yang akan diberikan  selama tiga bulan yakni September, Oktober, dan November.

“Jadi stok beras kita yang ada saat ini itu ada juga dialokasikan untuk penyaluran BSB di Sumbar selama tiga bulan,” ujar Tommy.

Lihat juga...