Pandemi Covid-19 jadi Tantangan Terbesar Dokter Bedah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Pandemi Covid-19 menjadi tantangan terbesar di dunia kesehatan, termasuk di kalangan dokter ahli bedah dalam melakukan operasi terhadap pasien.

“Saat pandemi ini, operasi tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada aturan atau SOP yang harus ditaati. Hal ini dilakukan untuk keamanan pasien, melindungi dokter dan tenaga kesehatan lainnya, yang terlibat,” papar Ketua Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (PABI) Cabang Semarang, dr. Benedictus Kartika Widjajanto, SpB. FINACS, saat ditemui di sela kegiatan pertemuan ilmiah Pengembangan Profesi Bedah Berkelanjutan (P2B2) PABI ke-XVII di Semarang, Jumat (30/10/2020) petang.

Dipaparkan, akibat pandemi pelaksanaan operasi menjadi terbatas dan diseleksi, baik pasien atau pun tenaga kesehatan yang melakukannya. Apalagi jika pasien yang akan dioperasi, sudah dinyatakan positif Covid-19.

“Ada SOP-nya, dari masing-masing rumah sakit sudah ada. Hal ini menyesuaikan dengan ketersediaan alat dan SDM, yang dimiliki. Ada yang tidak berani, atau menolak karena keterbatasan yang dimiliki,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, juga dilakukan deklarasi terkait manajemen dan penanganan kebencanaan. “Hal ini diperlukan agar penanganan pasien atau korban bencana bisa dilakukan dengan cepat, sebab terkadang di lapangan, terjadi tumpang tindih. Kita kerjasama dengan beragam organisasi lain, yang ada dibawah dan di luar Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Kalau semua ini bisa digabungkan, dalam satu manajemen pengelolaan, harapannya penanganan pasien atau korban bencana menjadi lebih cepat, tanggap dan tertata,” tandasnya.

Sekretaris kegiatan, dr. Edmond Rukmana Wikanta, M.Si.Med.,SpB(K)Onk., FINACS., FICS, menambahkan kegiatan tersebut diikuti oleh sebanyak 2.158 peserta, yang terdiri dari dokter spesialis bedah umum dan spesialis selain bedah umum, dokter bedah sub spesialis, peserta didik calon spesialis bedah/residen, serta dokter umum yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Kegiatan ini juga kita gelar sepenuhnya secara daring atau online sebagai komitmen kami menyikapi pandemi Covid-19 yang terjadi. Di lain sisi, kita menilai pandemi bukanlah hambatan dan halangan bagi kami untuk meningkatkan kompetensi, demi meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat atau pasien,” tandasnya.

Di sisi lain, dalam ajang P2B2 PABI ke-XVII tersebut, juga mendapat penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid), akan beragam terobosan yang dilakukan selama empat hari penyelenggaraan kegiatan, yang dilakukan secara daring, dari 27 -30 Oktober 2020.

“Kami berikan tiga penghargaan sekaligus dalam ajang P2B2 PABI ke-XVII ini. Pertama sebagai rekor dilaksanakannya P2B2 secara virtual dengan peserta terbanyak, dari catatan kami ada sebanyak 2.041, namun ternyata meningkat menjadi 2.158 peserta,” papar Direktur Leprid, Paulus Pangka di sela penyerahan penghargaan.

Direktur Leprid, Paulus Pangka, menyerahkan penghargaan rekor kepada panitia P2B2 PABI ke-XVII di Semarang, Jumat (30/10/2020) petang. Foto: Arixc Ardana

Sementara, penghargaan kedua atas pengangkatan anggota PABI baru terbanyak, 326 dokter Spesialis Bedah Umum yang dilakukan secara virtual pertama, dengan peserta tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

“Penghargaan ketiga berupa penyelenggaraan lomba e-poster dan presentasi prodium secara virtual pertama dan peserta terbanyak, 237 pemakalah dengan 263 paper atau karya ilmiah. Ketiganya ini tercatat sebagai rekor Leprid yang ke 617, 618 dan 619,” pungkas Paulus.

Lihat juga...