Panen Awal Lele di DCML Cilongok Sampai 400 Kilogram

Editor: Makmun Hidayat

BANYUMAS — Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML) Cilongok, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas mulai panen lele, Untuk panen awal ini diperoleh lele sebanyak 400 kilogram.

Officer Development Program (ODP) Koperasi Bangun Sejahtera Mandiri (KBSM) bidang perikanan, Faozan Syafrudien mengatakan, belum semua lele dipanen, masih tersisa sekitar 1000 ekor.

“Untuk hasil panenya kemarin kita jual di pasar lokal saja, kebetulan ada pedagang yang datang dan membeli lele hasil panen kita. Lele tersebut dibeli dengan harga Rp16.000 per kilogram, sesuai dengan harga pasaran,” kata Faozan kepada Cendana News, Jumat (9/10/2020).

Lebih lanjut Faozan menjelaskan, hasil panen tersebut masih sesuai dengan target budidaya lele. Hanya saja untuk besaran keuntungan yang diperoleh, pihaknya belum mulai menghitung karena belum semua lele dipanen.

Lele yang dipanen ukurannya juga bervariasi, yaitu ukuran untuk lele konsumsi. Kondisi kolam serta air yang dipersiapkan dengan matang, membuat budidaya lele ini berhasil dan nyaris tidak ada lele yang mati.

Pasca panen lele ini, sekarang sudah mulai dilakukan pembibitan lele dan sudah masuk usia 10 hari. Untuk budidaya lele dibagi menjadi tiga yaitu pembibitan, pembesaran dan lele konsumsi. Jenis lele yang dibudidayakan adalah lele mutiara.

Kepala Pengelola Dapur Komunal Cilongok, Tri Riyanto mengatakan, ada sebanyak 26.000 bibit lele yang dibudidayakan di lokasi tersebut. Budidaya menggunakan kolam bioflok, Terdapat 20 kolam bioflok berukuran masing-masing 3 x 3 meter di lokasi tersebut.

“Awalnya kita memang berencana untuk budidaya lele jenis Sangkuriang, tetapi kemudian dipilih Lele Mutiara karena lebih bisa bertahan dalam situasi panas, mengigat di lokasi dapur komunal, kawasan pembibitan lele cukup panas, tidak ada pohon peneduh,” jelasnya.

Salah satu pekerja di dapur komunal Cilongok yang membantu budidaya lele, Arif Miftahudin mengatakan, hasil panen lele cukup bagus karena sejak awal untuk kolam lele sudah dipersiapkan dengan dilengkapi stabilizer air. Stabilizer air tersebut berfungsi untuk menyeterilkan kolam terlebih dahulu, sebelum digunakan untuk budidaya lele.

Stabilizer air ini dibuat dari campuran kotoran ayam, jerami yag dipotong-potong serta tanaman enceng gondok yang dipotong-potong juga. Arif menjelaskan, semua bahan yang sudah dicacah kecil-kecil tersebut kemudian dicampurkan dan difermentasi selama satu bulan. Setelah itu baru dituangkan ke dalam air kolam.

“Kita juga ada yang menggunakan  kolam bioflok untuk budidaya lele. Kolam tersebut dilapisi terpal dan dipasang pipa pada dasar kolam yang berfungsi sebagai jalan keluar kotoran lele yang mengendap di dasar kolam. Kotoran lele ini kemudian diproses, hingga akhirnya bisa menjadi pakan,” terangnya.

Lihat juga...