Papeda, Makanan Ambon yang Selalu Dirindui

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Bagi anak-anak yang berdarah Ambon, mereka lebih mengenal papeda dibandingkan nasi. Saat mereka harus bekerja atau bersekolah yang lokasinya jauh dari tanah kelahirannya, rasa rindu akan makanan khas Ambon ini tidak bisa mereka pungkiri.

Betty Amarduan, wanita Ambon yang sudah menetap di Jakarta sejak tahun 2012 dan terbiasa memasak papeda dengan menggunakan sagu tani, saat ditemui di Meruya, Jakarta Barat, Sabtu (31/10/2020) – Foto Ranny Supusepa

Betty Amarduan, wanita Ambon yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2012 menyatakan yang paling dirindukan dari negeri (red: istilah orang Ambon menyebutkan kampung) adalah makanannya.

“Papeda kuah kuning. Itu yang sulit untuk didapatkan di Jakarta. Karena selain ikannya tidak segar, susah ketemu papeda. Kalau mau makan ya bikin sendiri. Pakai sagu tani,” kata Betty saat ditemui, Sabtu (31/10/2020).

Untuk sagu tani ini, ia menyebutkan biasa membeli di salah satu pusat perbelanjaan besar di dekat rumahnya di wilayah Jakarta Barat.

“Bisa disana atau kadang-kadang di pasar. Yang penting kalau kita pakai sagu tani, ada juga yang menggunakan tepung lain. Kecuali kalau ada yang baru datang dari Ambon, suka bawa sagu dari sana,” ucapnya masih dengan logat Ambon yang sangat kental.

Cara membuat papeda ini, menurutnya sama sekali tidak susah. Juga tidak membutuhkan waktu lama.

“Pertama, sagu itu kita campur dengan air biasa dalam sempe (red: tempat dari tanah liat yang khusus digunakan untuk membuat papeda). Tambah garam sedikit dan bisa juga ditambah limo sedikit,” ucapnya.

Jika sudah merata, tambahkan sedikit-sedikit air mendidih, sambil diaduk terus hingga mengental, seperti lem.

“Kalau sudah terlihat mengental, baru kita aduk cepat. Hingga yang awalnya berwarna putih seperti susu mulai berubah menjadi agak terang. Ini seng lama, paling hanya satu menit saja,” ujarnya.

Sebagai pendamping papeda, biasanya adalah ikan kuah kuning. Tapi ada beberapa yang memakannya dengan masakan berkuah lainnya, misalnya ikan asam padeh.

“Untuk kuah kuning ini, biasanya kita pakai tenggiri atau tongkol. Bisa juga menggunakan ikan kembung jika tenggiri atau tongkol tidak ada. Bumbunya biasa saja. Jahe, kunyit, serai, bawang merah, bawang putih. Yang membuat istimewa adalah jeruk Ambon yang memberikan rasa segar dan agak kecut,” kata Betty.

Tapi, ia mengakui jika di Jakarta agak susah mendapatkan jeruk Ambon ini. Ia hanya bisa merasakan nikmatnya jika pulang ke Ambon atau jika ada yang membawakan dari Ambon.

“Sebagai gantinya bisa digunakan belimbing sayur atau belimbing wuluh. Hampir sama rasa segarnya dengan kalau kita pakai jeruk Ambon,” ucapnya.

Memakan papeda yang paling enak adalah saat panas. Sehingga. Betty menyebutkan papeda selalu dibikin saat semua orang siap untuk makan.

“Matang, habis. Itu lah enaknya makan papeda,” tandasnya seraya tertawa.

Fajar, yang sudah terbiasa memakan papeda dari kecil, mengungkapkan sangat menyukai makanan khas Indonesia Timur tersebut.

“Yang suka bikin biasanya opa. Karena mama seng bisa. Jadi opa yang bikin papeda dan oma yang masak kuahnya. Mama duduk saja,” kata Fajar saat ditemui di rumahnya.

Anak berumur 12 tahun ini memang lahir dari ibu yang berdarah Ambon dan ayah berdarah Jawa.

“Tapi Fay lebih suka masakan Ambon. Rasanya segar dan agak pedas. Kalau masakan papa itu manis,” ujarnya seraya memakan papedanya.

Lihat juga...