Pasar Murah Pangan Lokal untuk Membantu Petani Babel

Salah satu both di pasar murah pangan lokal di Pangkalpinang – Foto Ant

PANGKALPINANG – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), menggelar pasar murah pangan lokal. Kegiatan untuk membantu kelompok tani, memasarkan hasil pertanian dan makanan olahan di masa pandemi COVID-19.

“Kita berharap dengan kegiatan ini lebih memotivasi kelompok wanita tani (KWT) mengembangkan usaha pertaniannya, dengan memanfaatkan pekarangan rumah,” kata Plt Kepala Dinas Pangan Provinsi Kepulauan Babel, Juadi, di Pangkalpinang.

Kegiatan pasar murah diikuti delapan KWT di Kota Pangkalpinang. Selain untuk membantu kelompok tani memasarkan produk, kegiatan tersebut juga sebagai langkah pemerintah daerah, untuk menggencarkan kampanye diversifikasi pangan lokal.

Delapan KWT peserta pasar murah tersebut adalah, KWT Pelangi, KWT Daun Salam, KWT Matahari, KWT Delima Indah, KWT Ceria, KWT Cendawan, KWT Mutiara, dan KWT Komala Indah II. Mereka menjajakan berbagai hasil panen berupa sayur segar dan pangan lokal olahan kreasi masing-masing kelompok. “Pelaksanaan pasar murah ini tetap mengedepankan protokol kesehatan, untuk mencegah penularan dan penyebaran virus corona selama kegiatan pasar murah ini,” tambahnya.

Kegiatan pasar murah dikemas dengan memberikan voucher kepada pengunjung, yang telah terlebih dahulu membeli produk pangan. Voucher kemudian ditukar dengan salah satu dari empat jenis makanan yang disediakan panitia, berdasarkan warna bendera yang dipilih.

Penggunaan voucer tidak lain untuk menghindari adanya kontak langsung antara pengunjung dengan para peserta. Menu gratis yang disediakan adalah soto singkong dengan es tebu, nasi goreng pisang dengan es bunga telang, pempek dan bakwan singkong serta es gula merah, dan yang terakhir, aneka pangan kue dengan es kunir asem. “Olahan pangan lokal gratis ini adalah kreasi ibu-ibu KWT Pangkalpinang yang dilambangkan dengan bendera kuning, hijau, merah, dan biru. Untuk menarik pengunjung, disediakan juga spot foto (photo booth) yang dipercantik menggunakan sayuran segar, pangan lokal, serta kotak-kotak buah,” katanya.

KWT merupakan bagian dari kekuatan masyarakat perkotaan. Untuk mendorong masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan secara maksimal, sehingga rumah dapat menjadi sumber kehidupan dalam upaya pemenuhan kebutuhan rumah tangga, terutama pangan, sayur, bumbu atau rempah, dan lainnya.

“Ke depan, harapan saya produk lokal dari ibu-ibu KWT dapat dijual di perusahaan-perusahaan retail dan siap bersaing dengan produk luar yang telah terlebih dahulu ada. Perbaiki kemasan produk, karena kemasan dan label menentukan harga. Semakin bagus kemasan dan labelnya, maka harganya pun akan meningkat,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...