PAUD Restorasi di Sikka Gratiskan Biaya Sekolah

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Restorasi di RT 37 RW 09 Patisomba, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur ( NTT) menggratiskan biaya sekolah bagi muridnya. 

Sebanyak 34 murid yang bersekolah di tempat ini merupakan anak-anak yang orangtuanya tidak mampu dan  tinggal di sekitar lingkungan sekolah dan tidak bisa menyekolahkan anak mereka di sekolah berbayar di wilayah kelurahan ini.

“Saya melihat banyak anak-anak usia dini di lingkungan saya yang tidak bersekolah karena orangtuanya tidak mampu makanya saya dirikan PAUD Restorasi, ” sebut pendiri PAUD Restorasi, Remigius Nong saat ditemui Cendana News di sekolahnya, Kamis (22/10/2020).

Pendiri PAUD Restorasi saat ditemui di sekolahnya, Kamis (22/10/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Remi sapaannya mengatakan, banyak yang mengira sekolahnya merupakan milik salah satu partai politik padahal dinamakan PAUD Restorasi agar ada perubahan baik untuk siswa, guru dan orang tua murid.

Ia menambahkan, selain siswanya gratis, para guru sebanyak 4 orang bersama seorang operator atau tenaga olah data dan dirinya selaku pengelola pun semuanya relawan dari lingkungan sekitar sekolah.

“Kami memberikan bibit sayuran buat para guru dan orangtua untuk ditanam dan dijual oleh mereka. Dengan begitu mereka pun akan mendapatkan pemasukan untuk membiayai kehidupan keluarganya,” sebutnya.

Remi melanjutkan, awal pendirian sekolah dirinya melihat banyak anak usia Sekolah Dasar (SD), Sekolah Manengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Manengah Atas (SMA) di lingkungannya lebih banyak bermain dan menonton sinetron daripada belajar.

Dirinya pun membuat bimbingan belajar untuk siswa SD jam 16..00 sampai 17.00 WITA, SMP jam 17.00 hingga 18.00 WITa dan SMA pukul 18.00 sampai 19.00 WiTA dan banyak anak yang mengikutinya dengan tanpa dipungut bayaran.

“Setahun berjalan para relawan banyak yang mendapat pekerjaan sehingga tinggal saya sendiri. Akhirnya saya membuat taman baca dimana buku-buku saya bawa di motor dan bila melihat banyak anak-anak berkumpul saya berhenti dan mengajak mereka membaca,” ungkapnya.

Setelah taman baca berjalan, Remi berpikir untuk mendirikan PAUD meskipun sekolahnya hingga berdiri sampai saat ini belum mendapatkan izin operasional namun tetap beraktivitas seperti biasa dan bertahan selama 3 tahun.

Ia tawarkan konsep menabung di mana setiap harinya satu orang murid menabung sebanyak Rp1.000 dan uang tabungannya dihitung setahun sekali disaksikan orang tua murid dan uangnya dipergunakan membeli seragam sekolah.

“Untuk seragam guru dan perlengkapan sekolah saya meminta sumbangan dari teman-teman.Ada yang menyumbang pensil dan  perlengkapan lainnya sementara uangnya buat beli seragam sekolah. Para murid pun uangnya wajib setiap hari diberikan orang tua untuk ditabung,” ungkapnya.

Sementara itu Maria Wilhelmina Lenga, salah seorang guru mengaku pernah berkuliah di sebuah universitas di Pulau Jawa namun tidak menamatkan kuliah dan dirinya pun tertarik mengajar di sekolah ini.

Meski tidak dibayar, Helmy sapaannya mengaku senang mengajar di sekolah ini karena konsep pembelajarannya berbeda karena lebih menekankan pendidikan karakter guna mendidik anak-anak agar mandiri dan disiplin serta berperilaku baik.

“Kami diberikan bibit sayuran untuk ditanam dan sayurannya kami jual untuk menambah penghasilan. Meski tidak dibayar saya betah mengajar di sekolah ini agar anak-anak sejak dini mendapatkan pendidikan yang baik,” ungkapnya.

Lihat juga...