Pelaku UKM di Lamsel Butuh Pelatihan Tingkatkan Kapasitas

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kendala sumber daya manusia (SDM) dalam bidang pemasaran, menjadi penyebab produk usaha kecil kurang terserap pasar. Demikian diungkapkan Budi Prasetiyo, ketua Karang Taruna (Katar) Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan. Ia menyebut, dibutuhkan peningkatan skill dan kapasitas melalui pelatihan, kursus dan pendampingan.

Perkembangan teknologi, sebut Budi Prasetiyo, berimbas tren penjualan produk secara digital meningkat. Setiap desa yang memiliki produk usaha kecil mikro menengah (UMKM), berpotensi memasarkan produk melalui sistem digital.

Imam Junaidi, Kepala Desa Kemukus, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (8/10/2020). -Foto: Henk Widi

Karang Taruna, sebut Budi Prasetiyo, ikut peduli pada pendidikan para pemuda desa untuk meningkatkan kemampuan berwirausaha. Selama ini, setiap desa memiliki anggaran 20 persen untuk alokasi pendidikan. Ia mendorong sebagian dialokasikan bagi pemuda untuk pelatihan peningkatan kapasitas SDM. Cara tersebut agar generasi muda bisa membuka lapangan pekerjaan mandiri.

“Karang Taruna mengawal upaya setiap desa mengalokasikan dana desa sebagian untuk sektor pendidikan, anak-anak putus sekolah, lulus sekolah, yang masih bingung mencari pekerjaan bisa dilatih untuk mengolah produk, pengemasan hingga pemasaran online,” terang Budi Prasetiyo di Ketapang, Kamis (8/10/2020).

Menurutnya, peningkatan kualitas SDM pemuda untuk mengembangkan UMKM sangat vital. Sebab, dalam perkembangan Katar Lamsel telah menyediakan aplikasi untuk menjual produk. Digitalisasi dalam sektor pemasaran diperoleh melalui pelatihan. Pelatihan berbentuk pengelolaan toko online, pengemasan dan meningkatkan mutu produk.

Sejumlah desa yang memiliki fasilitas internet, sebut Budi Prasetiyo, bisa memaksimalkan fasilitas tersebut. Bentuk dukungan untuk peningkatan kualitas SDM Katar, para pemuda di pedesaan telah disiapkan marketplace Kresekin.id, yang digunakan untuk penjualan produk. Selain itu, Katar membentuk Badan Usaha Milik Karang Taruna (Bumkat).

“Peluang usaha bagi pemuda yang lepas sekolah, di antaranya usaha konveksi, bidang pengolahan ikan dan bidang laundri, karenanya butuh pelatihan khusus,” bebernya.

Pendidikan vokasi bagi generasi muda, sebutnya, bisa bekerjasama dengan Balai Latihan Kerja (BLK). Selain itu, desa, karang taruna bisa melibatkan Kementerian Koperasi dan UMKM. Sebab, wilayah Ketapang yang ada di dekat pelabuhan Bakauheni, akan dijadikan kawasan pariwisata terpadu.

Imam Junaidi, Kepala Desa Kemukus, Kecamatan Ketapang, menyebut dukungan untuk pelatihan telah diberikan melalui internet gratis. Fasilitas internet gratis dari Kementerian Komunikasi dan Informatika digunakan untuk sektor pendidikan. Sebab, selain untuk belajar anak-anak usia sekolah, internet gratis bisa untuk pengembangan SDM pemuda desa.

“Melalui pendampingan dari karang taruna, pemuda desa bisa mendapatkan ide, dukungan, untuk mengolah produk hasil pertanian dan kerajinan bernilai ekonomis,” cetusnya.

Alokasi untuk sektor pendidikan bagi pemuda desa ikut mendukung kreativitas produk UMKM. Sebagai desa penghasil pisang, jagung, bisa diolah menjadi produk makanan ringan. Pembuatan kemasan hingga pemasaran bisa memanfaatkan marketplace, dan mudahnya pembuatan toko online memanfaatkan internet.

Agus, pedagang kuliner dan oleh-oleh, menyebut produk makanan ringan dikemas semenarik mungkin. Jenis produk yang dibuat saat ini dominan memiliki kemasan menarik. Makanan ringan yang dijual meliputi keripik,peyek,kopi bubuk dan produk lain. Sebagian produk tersebut dijual secara offline dan sebagian dijual online melalui media sosial.

“Edukasi dari dinas koperasi bisa meningkatkan nilai jual dengan kemasan menarik dan penjualan secara online,”cetusnya.

Pelatihan untuk pengemasan tersebut, diakuinya sekaligus meningkatkan keawetan produk. Sebagian produk akan disukai dengan adanya promosi dan pemberian diskon bagi yang membeli banyak. Strategi tersebut diperoleh melalui pelatihan yang sangat diperlukan bagi pelaku UMKM seperti dirinya. Sebagian produk yang dijual dominan hasil pertanian dan perikanan asal Ketapang.

Wandi, salah satu pelanggan oleh-oleh di warung milik Agus, menyebut kemasan produk menjadi kunci konsumen tertarik. Perlunya edukasi dan pelatihan dalam pengemasan produk bisa diperoleh dari belajar secara online. Bagi pelaku usaha, ia menyebut media Youtube dan juga pelatihan online bisa dipilih untuk peningkatan produk UMKM.

Meski dijual mulai harga Rp10.000 per kemasan, namun dijual dalam varian rasa berbeda bisa berpotensi untuk mendapatkan omzet yang banyak. Berbagai varian rasa dan bentuk kemasan menarik bisa dipelajari pelaku usaha secara swadaya, atau dikoordinir pihak desa untuk peningkatan kapasitas SDM.

Lihat juga...