Pembudidaya Rumput Laut Butuh Mesin Produksi Keragenan dan Pengering

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Tingkatkan nilai jual produk hasil budidaya rumput laut warga pesisir timur Lampung Selatan butuh alat produksi keragenan dan pengering. Selama ini mereka terpaksa menjual dalam bentuk utuh, sehingga pendapatan juga tidak maksimal.

Juarsih, pembudidaya rumput laut jenis Eucheuma spinosum memilih menjual dalam kondisi utuh setelah dikeringkan. Warga Desa Legundi, Kecamatan Ketapang itu menyebut pernah mengajukan alat produksi keragenan dan alat pengering atau mesin rotary dryer. Kedua alat tersebut a telah diminta dengan pengajuan proposal melalui kelompok pembudidaya rumput laut Sinar Semendo. Meski telah disurvei pihak Dinas Kelautan dan Perikanan usulan belum pernah terealisasi.

Alat produksi keragenan sebut Juarsih merupakan produk olahan rumput laut. Keragenan dapat diekstraksi dari protein dan zat rumput laut dapat digunakan dalam industri pangan. Pembuatan menggunakan alat khusus untuk proses peleburan bahan baku rumput laut dan dibuat menjadi bubuk.

“Karena alat pengolah keragenan tidak kami miliki maka pembudidaya memilih menjualnya dalam bentuk bahan baku berbentuk kering ke pengepul, imbasnya nilai jual di level pembudidaya hanya di bawah angka Rp10.000 per kilogram,” terang Juarsih saat ditemui Cendana News di Legundi, Selasa (6/10/2020).

Kebutuhan alat produksi keragenan sebutnya sama pentingnya dengan mesin rotary dryer. Alat tersebut sangat digunakan untuk proses pengeringan saat musim penghujan.

Sulitnya mengusulkan bantuan ke pemerintah kabupaten sebutnya imbas pemisahan dinas terkait. Sebab sebelum tahun 2018 Dinas Kelautan dan Perikanan masih berada di tingkat kabupaten. Namun memasuki awal 2019 Dinas Kelautan berada di tingkat provinsi.

“Saat masih tergabung jadi satu Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten saja susah mengajukan bantuan alat apalagi saat ini ke provinsi,” keluhnya.

Rumput laut spinosum sebut Juarsih bisa dipanen usia satu bulan. Ia bisa mendapat hasil rata rata 2 ton rumput laut basah. Saat dikeringkan yang dijual rata rata mencapai 1,5 ton. Harga per kilogram di level petani mencapai Rp10.000. Sejak lima tahun harga belum alami kenaikan.

Solihin, salah satu pembudidaya rumput lainnya menyebut ketiadaan alat produksi rumput laut berimbas penjualan dalam bentuk bahan baku. Usaha budidaya yang tidak membutuhkan modal lahan sebutnya jadi pilihan.

“Terkendala tidak adanya alat produksi berimbas harga tetap stabil sesuai harga yang ditentukan pengepul,” bebernya.

Solihin menyebut saat musim kemarau selama empat bulan terakhir membantu proses pengeringan. Untuk menghasilkan rumput laut kering yang berkualitas normalnya ia harus menggunakan mesin rotary dryer. Namun harga alat yang mahal membuat pengeringan manual jadi pilihan.

Pembudidaya rumput laut sebut Solihin terikat dengan pengepul. Sebab sebagian pengepul sekaligus sebagai penyedia modal. Butuh modal sekitar Rp4juta dalam satu hamparan seluas satu hektare. Modal digunakan untuk biaya pengikatan bibit dan pemanenan. Ia masih tetap mengumpulkan modal untuk membeli mesin pengering yang dibutuhkan kala penghujan.

Lihat juga...