Pemulung Raih Berkah Sampah dari Unjuk Rasa di Bandar Lampung

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah tukang rongsokan atau pemulung membawa gerobak dan karung, terlihat menyusuri jalan Wolter Monginsidi, Bandar Lampung. Mereka mengais dan mengumpulkan sampah botol bekas air kemasan dari para peserta unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja.

Baharudin, tukang rongsokan, mengaku menyisir setiap selokan, dan tempat sampah di lokasi yang menjadi jalur long march berbagai elemen masyarakat yang melakukan demo atau unjuk rasa menolak UU Omnibus Law.

Menurutnya, volume sampah yang dibuang oleh pengunjuk rasa meningkat dibanding hari biasa. Setiap kotak sampah yang berada di sepanjang Jalan Wolter Monginsidi menuju kantor DPRD Lampung itu menjadi peluang pendapatan baginya. Jenis sampah plastik, kardus paling banyak diperolehnya. Sampah plastik dominan berupa gelas dan botol air mineral.

Baharudin, pencari rongsokan mengumpulkan botol air mineral yang dibuang oleh sejumlah mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa di sepanjang Jalan Wolter Mongonsidi hingga kantor DPRD Provinsi Lampung, Rabu (7/10/2020). -Foto: Henk Widi

Unjuk rasa ribuan mahasiswa dan organisasi buruh tergabung dalam Aliansi Lampung Memanggil, berlangsung sejak pagi hingga siang. Cuaca panas membuat demonstran dominan membawa minuman kemasan. Sebagian minuman kemasan, bahkan dibuang sembarangan di sepanjang jalan dan lapangan DPRD Provinsi Lampung.

“Saya sudah mendapatkan sekitar empat karung sejak pagi, setiap mengumpulkan karung botol, gelas minuman plastik langsung dikumpulkan di satu titik, agar disortir oleh istri saya, saya keliling ke sepanjang lokasi yang dilintasi pendemo,” terang Baharudin, saat ditemui Cendana News di Jalan Wolter Monginsidi, Rabu (7/10/2020).

Baharudin menyebut, informasi akan adanya unjuk rasa selalu menjadi magnet baginya. Terkait isu yang disuarakan oleh pendemo, ia tidak pernah ambil pusing. Tujuannya ikut membaur dengan demonstran atau berada di lokasi unjuk rasa, hanya untuk mencari sampah yang bisa dijual. Kardus bekas air mineral, gelas dan botol plastik menjadi sasarannya.

Peningkatan volume sampah plastik di lokasi unjuk rasa, tambah Baharudin, didukung lokasi berada di dekat sejumlah toko. Sejumlah toko waralaba yang menyediakan minuman kemasan serta pedagang minuman keliling, membuat sampah bertambah. Setengah hari saja ia mengaku bisa mengumpulkan lebih dari lima karung.

“Kalau ditimbang bisa mencapai puluhan kilogram, namun harus disortir agar tetap bisa dimanfaatkan,” beber Baharudin.

Senada dengan Burhanudin, tukang rongsokan dengan membawa gerobak bernama Nurkolis, juga mengaku mendapat berkah. Unjuk rasa boleh usai, namun ia baru memulai usahanya lebih giat. Sebab, ia bisa mengumpulkan botol bekas air mineral di halaman kantor DPRD Provinsi Lampung. Sebagian sudah terinjak dan rusak, sebagian tetap utuh.

“Gerobak saya tempatkan di lokasi yang dekat dengan area unjuk rasa, anak dan istri ikut serta mengumpulkan sampah,” terang Nurkolis.

Nurkolis menyebut, sebagian sampah plastik tidak melulu ada di jalan, lapangan dan tempat sampah. Ia harus rela turun ke sungai dan selokan di sekitar Jalan Wolter Monginsidi. Sebab, sebagian pengunjukrasa memilih membuang botol, gelas plastik sisa minuman ke selokan dan sungai. Langkah mengambil sampah plastik, sebutnya, ikut membantu petugas kebersihan.

Hasil pengumpulan sampah plastik selanjutnya akan dikumpulkan di rumahnya untuk penyortiran. Jenis sampah kertas kardus, sebutnya, dijual seharga Rp500, plastik botol air mineral Rp1.000 hingga Rp2.000 tergantung kondisi. Meski dijual dengan harga murah, ia kerap menjual sampah plastik saat sudah terkumpul mencapai 1 ton.

“Jika ada unjuk rasa atau keramaian, jadi potensi bagi saya mengumpulkan banyak botol dan gelas plastik,” cetusnya.

Selain pencari rongsokan, unjuk rasa menolak Omnimbus law atau UU Cipta Kerja, membawa berkah bagi pedagang minuman. Herman dan sang istri memilih memanfaatkan momen berjualan minuman. Herman menjual minuman jenis milkshake, sementara sang istri berkeliling menjual minuman air mineral kemasan botol.

“Momen keramaian demonstrasi kerap kuatir ada kerusuhan, namun selama ini justru menguntungkan bagi pedagang minunan,” sebut Herman.

Herman juga menyebut, kerap menyediakan karung khusus untuk membuang kemasan minuman. Karung tersebut menjaga agar kemasan minuman tidak dibuang sembarangan. Selanjutnya, karung sampah akan diambil oleh tukang rongsokan. Simbiosis mutulalisme dengan tukang rongsokan, sekaligus memberi sumber penghasilan dari sampah bernilai jual.

Keberadaan tukang rongsokan, sebutnya, ikut membantu kebersihan lingkungan. Saat sampah plastik dibuang sembarangan, terutama di selokan dan sungai, kerap tidak bisa terurai. Tak ingin mengotori lingkungan, pedagang minuman diwajibkan menyiapkan kantong pastik. Cara tersebut menghindari agar pembeli tidak membuang sampah sembarangan.

Lihat juga...