Penebangan Tanaman Kayu Keras Turunkan Debit Air Sejumlah Sungai di Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Sungai Way Pisang yang mengalir di sejumlah kecamatan Lampung Selatan terus alami penyusutan debit air yang bersumber dari Gunung Rajabasa. Selain kemarau, penebangan pohon keras diduga menjadi salah satu penyebab.

Kodrat Sumardi, warga yang tinggal di wilayah Gunung Goci, Desa Ruguk Kecamatan Ketapang Lampung Selatan masih menanam berbagai jenis kayu untuk penahan longsor, Rabu (6/10/2020). Foto: Henk Widi

Kodrat Sumardi, salah satu warga Desa Ruguk, Kecamatan Ketapang menyebut kawasan perbukitan di Lamsel telah berubah menjadi kawasan lahan pertanian. Ia mengingat pada 1970-an kawasan tempatnya tinggal merupakan hutan register dengan tanaman kayu keras. 

Lokasi tempatnya tinggal di Gunung Goci yang memiliki berbagai jenis tanaman endemik telah dibabat. Jenis tanaman medang, merbau, bayur, gandri, gebang dan tanaman kayu keras telah berganti tanaman pertanian.

“Berbagai jenis tanaman kayu keras digunakan sebagai bahan bangunan untuk rumah, lahannya dimanfaatkan untuk penanaman komoditas pertanian tanpa adanya penanaman ulang dengan tanaman kayu keras, imbasnya longsor menggerus permukaan tanah, perbukitan didominasi bebatuan padas,” terang Kodrat Sumardi saat dikonfirmasi di Ketapang, Rabu (7/10/2020).

Kodrat Sumardi menambahkan kebutuhan ekonomi jadi faktor warga mengesampingkan sisi ekologis. Penggunaan lahan untuk penanaman komoditas semusim jenis jagung berimbas tanah mudah tergerus.

Sebagian tanaman yang masih dipertahankan sebut Kodrat Sumardi dominan ada di bantaran sungai. Tanaman pada wilayah daerah aliran sungai (DAS) tidak ditebang karena berada di lokasi tebing curam yang sukit dijangkau. Dampak positifnya warga masih bisa menikmati suasana sejuk saat kemarau. Sebagian sumber air bersih dari sungai dimanfaatkan untuk penyediaan air minum dan pertanian.

“Warga harus membuat bendungan mini untuk menyediakan pasokan air bersih karena debit air menyusut,” cetusnya.

Menyusutnya debit air sungai juga terjadi di sungai Way Pisang. Anjar, salah satu petani di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan menyebut debit air sungai tersebut menyusut sejak lima tahun silam.

“Saat ini harus membendung terlebih dahulu dengan batu agar air bisa disedot karena aliran dari gunung Rajabasa terbatas,” cetusnya.

Ia tidak menampik alih fungsi lahan, penebangan pohon kayu keras jadi satu faktor menyusutnya debit air. Kebutuhan ekonomi jadi penyebab warga melakukan pembersihan lahan yang ditanami pohon kayu keras.

Sementara itu, Petani lain bernama Jupri memilih mempertahankan kayu keras untuk menyerap air. Jenis tanaman kayu keras jati, sengon dan pohon jengkol, petai ditanam pada lahan miliknya di Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni.

Dampak berkurangnya tanaman keras di wilayah tersebut warga memilih mencari air hingga ke lokasi yang jauh. Di wilayah Hatta kebutuhan air bersih diperoleh dari sumber air sumur Mojang.

Pasokan air dari sungai Way Ulu Badak yang tidak mengalir selama kemarau berimbas warga kesulitan air. Terlebih sejumlah perbukitan telah berubah menjadi lahan pertanian jagung dan pisang yang minim menyerap air.

Lihat juga...