Peneliti Ingatkan Ancaman Banjir Akibat Fenomena CENS

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Menguatnya CENS (Cross Equatorial Northerky Surge) di sepanjang Jawa bagian barat dan tengah, telah menyebabkan terjadinya banjir besar di Jabodetabek, seperti pada 2002, 2007, 2014 dan 2020. Dan, saat ini CENS kembali terpantau menguat. 

Peneliti Sains Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Erma Yulihastin, menyatakan penguatan CENS telah diteliti dapat memperkuat monsun musim dingin Asia yang berperan dalam pembentukan hujan di wilayah Indonesia selama periode musim hujan November-Maret.

“Sehingga menguatnya CENS berpotensi menyebabkan hujan persisten. Seperti yang terjadi pada tahun-tahun yang memcatatkan peristiwa banjir besar di Jabodetabek,” kata Erma, saat dihubungi Cendana News, Senin (19/10/2020).

Pada 2020, Erma menyatakan CENS mengakibatkan hujan dini hari ekstrem di Jakarta dan sekitarnya, hingga menyebabkan banjir besar di Jabodetabek, khususnya di kawasan Bekasi.

Peneliti Sains Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Erma Yulihastin, saat dihubungi terkait CENS, Senin (19/10/2020). –Foto: Ranny Supusepa

“Hujan lebat yang terjadi pada dini hari di darat merupakan kejadian ekstrem, dan menunjukkan suatu penyimpangan fenomena hujan, karena seharusnya hujan pada tengah malam hingga dini hari terjadi di tengah laut,” urai Erma.

Ia menyatakan, bahwa hujan dini hari hanya bisa dibangkitkan oleh angin permukaan yang sangat kuat dan bersifat lembap, karena membawa serta uap air dalam jumlah yang sangat banyak.

“Angin tersebut telah diteliti, bahkan mampu mendorong dan menggeser pusat konveksi yang terjadi di tengah lautan menjadi mendekati wilayah pesisir. Kondisi inilah yang dapat mengakibatkan kejadian ekstrem berupa hujan ekstrem, dan persisten yang terjadi selama berjam-jam sejak tengah malam hingga pagi hari. Seperti yang pernah terjadi pada 1 Januari 2020 di pesisir utara Jawa bagian barat,” paparnya.

Mengingat secara klimatologis juga telah diteliti keterkaitan erat antara CENS dan hujan dini hari dan kejadian ekstrem (Yulihastin, 2020), maka pola hujan dini hari ekstrem yang pernah menghantam Jakarta pada 1 Januari 2020 dapat kembali berulang pada pertengahan Januari 2021.

“Apalagi, saat ini diperparah dengan fenomena La Nina moderat yang mulai terjadi sejak Oktober 2020, dan diprediksi berlangsung hingga Maret 2021,” kata Erma lagi.

Ia menjelaskan, La Nina merupakan suatu fenomena yang menyuplai kelembapan yang berasal dari Samudra Pasifik menuju wilayah Indonesia, terutama di bagian timur laut, yaitu perairan Maluku dan sekitarnya.

“Hal ini tentu dapat memperparah musim hujan, karena uap air dan transpor kelembapan yang berasal dari Laut Tiongkok Selatan yang memasuki wilayah Indonesia melalui Laut Jawa diprediksi akan menguat signifikan dengan fenomena CENS,” imbuhnya.

Karena itu, Erma mengimbau agar semua pihak bisa mengambil langkah kebijakan dari hasil analisa pada fenomena CENS ini.

“Para pemangku kepentingan di DKI Jakarta dan pemerintah pusat perlu segera mengambil tindakan strategis dan taktis untuk mewaspadai kondisi ekstrem, yang dapat memicu banjir besar di Jabodetabek, karena kemungkinan dapat berulang pada pertengahan-akhir Januari 2021,” pungkasnya.

Lihat juga...