Peneliti: Makrozoobentos Berpeluang Jadi Bioindikator Kesehatan Perairan

JAKARTA — Peneliti Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jojok Sudarso mengatakan makrozoobentos dapat dikembangkan sebagai bioindikator untuk penilaian kesehatan perairan.

“Di masa mendatang merupakan suatu peluang yang besar untuk mengembangkan biokriteria dari hewan ini guna disesuaikan dengan kondisi ekoregion setempat,” kata Jojok dalam seminar virtual nasional “Ecological Tools dalam Penilaian Kesehatan Perairan Darat”, Jakarta, Rabu (21/10/2020).

Jojok menuturkan aktivitas antropogenik yang berada di daerah tangkapan air seringkali dilaporkan menimbulkan dampak negatif bagi ekosistem akuatik.

Salah satu biota akuatik yang terdampak oleh aktivitas antropogenik di daerah tangkapan air adalah organisme makrozoobentos. Hewan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai indikator biologi perairan.

Jojok mengatakan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh hewan tersebut, ternyata hewan itu relatif unggul sebagai alat untuk evaluasi kualitas lingkungan dibandingkan biota akuatik lainnya seperti ikan dan plankton.

Sementara itu, peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI Gunawan Pratama Yoga mengatakan kajian toksisitas bahan pencemar terhadap biota di perairan darat penting dilakukan.

Kajian toksisitas tersebut dilakukan guna menilai risiko keberadaan bahan pencemar bagi sumber daya hayati perairan darat.

Dia menuturkan melalui kajian toksisitas dapat ditentukan nilai ambang batas suatu bahan pencemar yang dapat ditolerir oleh biota perairan darat.

“Kajian toksisitas terhadap biota-biota endemik di Indonesia penting dilakukan untuk mengetahui tingkat toleransinya dalam menerima beban pencemar yang semakin tinggi di perairan darat Indonesia sehingga dapat dijaga kelestariannya sepanjang masa,” tutur Yoga. (Ant)

Lihat juga...