Pengembangan Maritim Maluku Barat Daya Harus Berbasis Konservasi

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Pengembangan wilayah pesisir pulau terluar kawasan Maluku Barat Daya, yang terdiri dari 18 pulau haruslah berbasis konservasi dan saling terhubung. Karena setiap ekosistem yang terbangun dari gugusan wilayah tersebut memiliki keunikannya sendiri.

Ahli Ekologi Pesisir IPB Prof. Dr. Ir. Dietrich G Bengen, DEA menyatakan wilayah perairan Maluku yang terbagi dalam tiga kawasan laut, yaitu kawasan Laut Seram, kawasan Laut Banda dan kawasan Laut Arafura memiliki potensi sumber daya ikan yang besar, sekitar 26,52 persen dalam skala nasional.

“Potensinya mencapai 1.729.100 ton per tahun. Dan tercatat untuk budidaya laut memiliki luasan 495.400 ha dan budidaya payau 191.450 ha. Ini sangat besar dan akan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat jika pemanfaatannya dilakukan secara optimal dan berkelanjutan,” kata Dietrich dalam mini workshop online, Rabu (14/10/2020).

Prof. Dr. Ir. Dietrich G Bengen, DEA saat mini workshop online tentang pengembangan pesisir, Rabu (14/10/2020). -Foto Ranny Supusepa

Ia menyatakan 18 pulau terluar di kawasan Maluku Barat Daya, semuanya merupakan pulau yang terbentuk akibat aktivitas tektonik.

“Dari ciri-ciri fisiknya, yaitu susunan pulau yang berbentuk busur dan ukuran pulau biasanya kurang dari 100 km persegi, mengindikasikan bahwa semua pulau tersebut terbentuk sebagai akibat gerakan tektonik dan biasanya akan saling terhubung satu dengan lainnya,” ujarnya.

Dan ciri khas lainnya, dari pulau yang terbentuk dari aktivitas tektonik adalah adanya uplift di seputar pulau. “Ini terlihat dari luasan terumbu karang dan padang lamun yang ada di sekitar pulau-pulau tersebut,” ujarnya lagi.

Contohnya, di Pulau Letti tercatat luasan terumbu karang sekitar 15,50 km persegi dan padang lamun sekitar 1,52 km persegi. Atau contoh lainnya, di Pulau Kisar luasan terumbu karang sekitar 27 km persegi dan padang lamun 15 km persegi.

“Luasan ini akan menjadi patokan, seberapa besar potensi ikan yang hisa didapat. Menurut data, dari satu km persegi terumbu karang, ada sekitar 20 ribu kg potensi ikan karang per tahunnya. Jadi tinggal dihitung saja, berapa potensi dari kedua pulau tersebut,” kata Dietrich.

Tapi, tegasnya, potensi ini yang bisa dimanfaatkan sebagai bahari dan budidaya ini hanya bisa didapatkan jika ekosistemnya terjaga. Dan mempertimbangkan pengembangan berdasarkan ekosistem yang ada.

“Perencanaan pengembangan wilayah pesisir haruslah berbasis pada kesesuaian pemanfaatan dan daya dukung lingkungan. Jangan karena lagi ngetren terumbu, semuanya diarahkan ke terumbu. Gak bisa begitu. Semuanya harus menyesuaikan pada ekosistem,” urainya.

Dan karena ciri dari gugusan pulau akibat aktivitas tektonik itu saling terhubung, maka pengelolaan ekosistem dan sumber dayanya pun harus didasarkan pada gugus pulau dan karakteristik masyarakat.

“Pengembangan wilayah haruslah berbasis konservasi. Dalam artian setiap wilayah harus dikembangkan berdasarkan ekosistem dengan didukung penuh oleh masyarakat, sehingga bisa berkelanjutan,” pungkasnya.

Lihat juga...