Pengembangan Pariwisata di Sikka Perlu Perhatian Serius

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) meminta kepada pemerintah agar memperhatikan tiga hal penting untuk pengembangan pariwisata di daerah ini.

Menurut HPI, selama mendampingi wisatawan terutama wisatawan mancanegara ada beberapa keluhan yang disampaikan dan ditemukan saat hendak ke sebuah destinasi wisata serta selama berada di sana.

“Pertama soal atraksi wisata yang harus  menjadi perhatian. Semua tempat baik atraksi wisata alam dan minat khusus yang mempunyai daya tarik perlu dikembangkan,” pinta Ketua HPI Cabang Sikka, Arkadius Jong, saat ditemui Cendana News, Minggu (4/10/2020).

Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Sikka, Arkadius Jong saat ditemui di Maumere, Sabtu (26/9/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Arkadius berharap agar semua destinasi wisata harus jadi perhatian, baik yang masih sama sekali baru atau rintisan, yang sudah mulai disentuh pemerintah atau mitra usaha yang dinamakan berkembang dan yang sudah berkembang atau maju.

Selain itu poin kedua soal aksesbilitas seperti transportasi serta komunikasi dan informasi juga menurutnya masih ditemukan kendala di beberapa tempat di sekitar destinasi wisata.

“Saat ini saja jalan dari Bola menuju Doreng putus di Kecamatan Waigete. Ada banyak destinasi wisata yang tidak ada sinyal teleponnya padahal desa bisa memasang satelit mini dengan menggunakan dana desa,” sebutnya.

Ketiga, lanjutnya, soal amenitas agar jangan sampai terjadi ketika berada di sebuah destinasi wisata tidak ada fasilitas seperti toilet dan homestay serta mau trekking juga tidak ada guide atau pemandunya.

Ia menyebutkan, kalau semua pihak mau mendukung dan duduk bersama membahasnya pasti akan lebih baik termasuk bagaimana soal politik anggaran di lembaga legislatif.

“Kalau satu orang wisatawan asing saja dalam sehari mengeluarkan dana Rp1 juta sehari saja tentu akan menguntungkan banyak orang. Akan memberi pemasukan bagi banyak orang,” sebutnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Petrus Poling Wairmahing membenarkan dinasnya memiliki anggaran terbatas untuk pengembangan sektor pariwisata.

Menurut Petrus, selama ini lembaga legislatif  masih melihat berapa pendapatan yang diperoleh atau disumbangkan dari sektor pariwisata padahal padahal bila dihitung dari pengeluaran seorang wisatawan maka sangat besar angkanya.

“Dalam sehari saja minimal seorang wisatawan bisa menghabiskan uang Rp1 juta. Uang ini tentu langsung diperoleh masyarakat baik hotel, rumah makan, pramuwisata, pemilik kendaraan, penjual kain tenun dan lainnya,” ungkapnya.

Petrus mengakui di tahun 2020 dana untuk pengembangan sektor pariwisata di kantornya sebagian besar sudah dialihkan untuk pencegahan dan penanganan Covid-19 sehingga pihaknya tidak bisa berbuat banyak.

Lihat juga...