Pengibaran Bendera, Antara Nasionalisme dan Kewajiban

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2020 adalah Indonesia Maju Berlandaskan Pancasila dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia. Di tengah Pandemi Covid-19, upacara peringatan berlangsung secara virtual dari kantor masing-masing.

Untuk mengenang perjuangan para pahlawan revolusi, Wali Kota Bekasi sudah menerbitkan edaran agar seluruh instansi masyarakat diminta juga mengibarkan bendera merah putih satu tiang penuh dan pada hari sebelumnya pada tanggal 30 September 2020 mengibarkan bendera setengah tiang.

Rahmat Effendi mengungkapkan sebuah perjalanan sejarah bangsa Indonesia mempertahankan ideologi negara yang harus terus diingat oleh setiap generasi millenial sebagai tanggungjawab mengisi kemerdekaan.

Perjuangan para pahlawan atas terjadinya peristiwa pemberontakan Gerakan 30 S-PKI yang terjadi pada 30 September 1965 menjadi momentum peringatan hal penting dan menjadi ideologi bangsa yang harus terus dikenang.

“Sebagai warga negara Indonesia, kita harus teruskan gerakan para pahlawan dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia,”ujarnya.

Namun, pada masa pandemi ini, jelasnya terus diingatkan bahwa sosialisasi 3M yang terus dilakukan di wilayah, untuk memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan agar selalu diterapkan melalui protokol kesehatan pada saat ini.

Koordinasi dan sinegritas yang dilakukan oleh Forkopimda dalam sosialisasinya terus dilakukan untuk mengamankan warga dalam mematuhi protokol kesehatan.

“Menjunjung tinggi rasa patriotisme dalam mempertahankan NKRI sangatlah penting, bangsa yang telah merdeka adalah bukti sejarah para pahlawan yang berjuang, pada masa ini kita juga harus ikut kontribusi dalam melaksanakan kepatuhan dari Pemerintah pusat” ujar Rahmat Effendi.

Pantauan Cendana News, di Kota Bekasi imbauan untuk mengibarkan bendera merah putih sepertinya belum diindahkan. Banyak rumah di komplek ataupun di perkampungan tertentu tidak terlihat mengibarkan bendera merah putih.

Terlihat hanya perkantoran mengibarkan bendera merah putih seperti kantor Kelurahan, Kecamatan maupun instansi tertentu lainnya.

Menanggapi hal tersebut, Sejarawan Kota Bekasi Ali Anwar, mengatakan bahwa dulu bendera merah putih biasanya muncul pada masa genting. Untuk menunjukkan semangat nasionalisme terutama pada masa revolusi.

“Bahkan dulu dengan gagah beraninya, mereka membangun rumahnya pun ada bendera merah putih di bagian kuda-kuda rumah pun dibaluti bendera merah putih untuk menunjukkan semangat nasionalisme,”ujarnya mengatakan tahun 90-an masih terlihat.

Apa lagi saat era Orde Baru ada seperti kewajiban. Tapi sekarang persoalan dikotomi antara kewajiban dan rasa nasionalisme. Sampai tahun 1990-an, tandas dia banyak warga masih suka rela mengibarkan bendera merah putih di rumahnya dilandasi rasa nasionalisme masih tinggi.

“Sekarang antara kewajiban sama dengan kesadaran. Era reformasi tidak ada semacam kewajiban apa yang kebiasaan orde baru beberapa hal jadi perdebatan,”ujarnya.

Namun demikian dia memaklumi dan tidak ingin berpraduga dengan masih banyaknya warga yang tidak memasang bendera merah putih meski sudah ada imbauan. Dia beranggapan warga sudah menanamkan bendera merah putih di dadanya.

“Tapi dulu, itu kesadaran serentak, semua rumah mengibarkan bendera merah putih saat hari kesaktian Pancasila. Sehingga warga yang tidak ikut mengibarkan ada perasaan malu dan lainnya seperti diberi stigma tertentu jika tidak memasang,”pungkas dia.

Lihat juga...