Penjualan Daun Gebang di Pasar Alok Maumere, Meningkat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Merebaknya pandemi Corona membuat penjualan daun gebang di Pasar Alok, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami peningkatan karena semakin banyak perempuan yang menenun.

Banyaknya penenun tersebut  karena para perempuan ingin menambah penghasilan keluarga di tengah pendapatan suami yang mengalami penurunan.  Apalagi banyak perempuan yang juga tidak bekerja atau diliburkan.

“Biasanya setiap hari Selasa yang merupakan hari pasar mingguan, saya membawa 50 ikat daun gebang. Sekarang membawa 80 daun gebang sejak adanya wabah Corona bulan April lalu,” ungkap Arini, salah seorang penjual daun gebang saat ditemui di Pasar Alok, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (6/10/2020).

Arini, salah seorang yang sudah belasan tahun menjual daun gebang, saat ditemui di Pasar Alok, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (6/10/2020). Foto: Ebed de Rosary

Arini mengatakan, biasanya setiap hari Selasa dirinya bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp150 ribu. Tetapi kini bisa mencapai Rp250 ribu, di mana daun gebang dijual satu ikat seharga Rp5 ribu.

Dia sebutkan, daun gebang ini dibeli dari warga yang mempunyai pohon gebang dengan harga satu ikat Rp1.500 sehingga dalam satu ikat, dirinya bisa mengantongi keuntungan Rp3.500 dipotong biaya perjalanan pulang-pergi Rp20 ribu.

“Saat wabah Corona merebak para perempuan terutama guru-guru mempunyai lebih banyak waktu di rumah karena sekolah tutup. Maka mereka mengisi waktu luang dengan menenun,” ungkapnya.

Selain itu tambah Arini, banyak toko dan tempat usaha yang meliburkan karyawan sehingga orang lebih banyak mencari uang dengan membuat kain tenun, dan menjualnya untuk menambah pendapatan.

Sementara itu, Petronela seorang penjual daun gebang lainnya mengaku, hanya membawa sebanyak 50 daun gebang untuk dijual di Pasar Alok setiap hari Selasa. Untuk menambah penghasilan selain menjual hasil pertanian seperti singkong dan pisang.

Dirinya mengaku, mengambil daun gebang di kebun dan mengeringkan. Lalu setiap selasa dijual di pasar dan sejak merebaknya wabah Corona penjualan daun gebang pun diakuinya meningkat.

“Lumayan dalam sehari berjualan bisa mendapatkan uang Rp200 ribu hingga Rp250 ribu kalau semua laku terjual. Uang yang diperoleh bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Petronela menjelaskan, ada dua jenis daun Gebang yang dijual dimana ada yang ukurannya kecil dan yang lainnya berukurang lebih besar. Tapi harga jualnya seikat tetap sama.

Pembelian daun gebang menurutnya tetap ada. Sebab para penenun juga menjual kain tenun mereka seminggu sekali di pasar dan usai menggelar dagangan mereka pun pasti membeli daun gebang.

“Mungkin sekarang karena wabah Corona orang sulit mencari uang sehingga banyak yang berusaha menambah penghasilan dengan menenun,” ucapnya.

Lihat juga...