Penyidik Tidak Menahan Tujuh Tersangka Kebakaran Kejagung

Api membakar gedung Kejaksaan Agung di Jakarta, Sabtu (22/8/2020) malam - Foto ANTARA

JAKARTA – Penyidik Bareskrim Polri tidak menahan tujuh tersangka kasus kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung, usai pemeriksaan yang berlangsung pada Selasa (27/10/2020).

“Penyidik tidak melakukan penahanan karena tersangka dianggap kooperatif, dengan jaminan penasihat hukumnya,” kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Ferdy Sambo, Rabu (28/10/2020).

Pada Selasa (27/10/2020), tujuh dari delapan tersangka kasus kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung, memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik Bareskrim Polri. Sementara satu tersangka yang tidak hadir, adalah pejabat pembuat komitmen Kejaksaan Agung berinisial NH. Yang bersangkutan tidak hadir dengan alasan sakit. Selanjutnya penyidik menjadwalkan ulang pemanggilan terhadap NH pada Senin (2/11/2020). “Tersangka pejabat pembuat komitmen NH akan diperiksa pada 2 November 2020,” tutur Sambo.

Setelah gelar perkara Bareskrim bersama Kejagung, penyidik menyimpulkan penyebab awal kebakaran berasal dari kelalaian aktivitas merokok, yang dilakukan lima orang tersangka. Mereka adalah tukang bangunan, yang tercatat sedang bekerja di Aula Biro Kepegawaian Lantai 6 Gedung Utama Kejaksaan Agung.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Ferdy Sambo – Foto Ant

Api cepat menjalar, dipicu adanya sisa cairan pembersih merek Top Cleaner yang ada di setiap lantai. Cairan pembersih itu ternyata mengandung solar. PT APM merupakan perusahaan cleaning service, yang disebut menjalin kerja sama dengan NH, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kejagung, dalam pengadaan minyak pembersih.

Delapan orang akhirnya ditetapkan menjadi tersangka yaitu, S, H, T, K, IS, UAM, RS, dan NH. Tersangka S, H, T, dan K adalah tukang bangunan, IS adalah tukang wallpaper, UAM merupakan mandor. Sementara RS adalah Direktur PT APM, dan NH adalah pejabat pembuat komitmen Kejaksaan Agung.

Para tersangka dikenakan Pasal 188 KUHP juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. Mereka terancam hukuman hingga lima tahun penjara. Sebelumnya, dalam penyidikan kasus kebakaran Geduyng Kejaksaan Agung, penyidik Bareskrim menermukan sejuamlah fakta baru. (Baca: https://www.cendananews.com/2020/10/kasus-kebakaran-kejagung-penyidik-temukan-fakta-baru.html) (Ant)

Lihat juga...