Peran Penting Kalangan Milenial bagi Keberlangsungan Kuliner Tradisional

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Tanpa disadari, semakin banyak masyarakat yang mulai meninggalkan pangan lokal Indonesia. Lebih cenderung menggunakan bahan pangan impor, dan  mulai memasak makanan non lokal. Kalau saja para generasi muda atau milenial mau lebih aktif menjaga keberlangsungan pangan lokal, maka dapat membantu keberlangsungan pangan lokal, yang berpengaruh bukan saja pada keberlangsungan petani lokal tapi juga untuk lebih menjaga kesehatan masyarakat.

Chef Reyhan Dira, menyatakan, kondisi saat ini, masyarakat lebih menyukai kuliner yang berasal dari non-lokal. Hal ini patut disayangkan.

“Kenapa? Karena masakan Indonesia itu sangat kaya akan rasa dan rempah. Buktinya, Gordon Ramsay saja sampai datang ke Indonesia karena ingin mencicipi secara langsung rendang Indonesia. Ini bukti bahwa masakan Indonesia mampu mencuri hati dan lidah internasional,” kata Chef Dira saat talk show online terkait kuliner lokal, Sabtu (17/10/2020).

Ia juga menyatakan, kenyataannya, masakan lokal Indonesia banyak digemari oleh masyarakat internasional.

“Yang jelas itu rendang. Lalu ada terong balado yang digemari juga di berbagai negara. Mie karet, tempe bahkan hingga sambal pun memiliki tempat tersendiri di kalangan pecinta kuliner dunia,” ucapnya.

Selain itu, ia juga menyatakan pangan Indonesia memiliki berbagai pilihan alternatif bahan baku dan variasi rempah yang jika diekspor memiliki nilai tinggi di negara tujuan.

“Masyarakat terbiasa makan nasi sebagai sumber karbo. Fungsi ini bisa digantikan dengan varian umbi, yang lebih kaya serat dan memiliki proses cerna lebih lama. Atau rempah-rempah Indonesia, seperti jahe, lengkuas, temu kunci yang dinyatakan memiliki pengaruh pada tingkat imunitas tubuh seseorang. Jadi, kalau menurut saya, lebih baik menggunakan pangan lokal,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh National Director International Association of Students in Agriculture and Related Science (IAAS) Indonesia, Brigita Sidharta, yang menyampaikan harapannya agar generasi milenial lebih peduli dengan pangan lokal.

National Director International Association of Students in Agriculture and Related Science (IAAS) Indonesia, Brigita Sidharta, saat menyatakan pendapatnya terkait kondisi makanan lokal dan kaitannya dengan generasi muda, saat talk show online tentang kuliner lokal, Sabtu (17/10/2020) – Foto: Ranny Supusepa

“Ini bukan hanya untuk membuat pangan lokal menjadi bagian dari masyarakat tapi juga sebagai upaya agar para petani lokal memiliki market yang lebih besar lagi. Artinya setiap yang mereka hasilkan dari lahan mereka, bisa diserap di pasar,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Ia menceritakan, salah seorang petani yang ditemuinya mengakui bahwa mereka tidak berani untuk menyediakan banyak bahan baku untuk dijual, karena takut harganya akan turun di pasar.

“Salah seorang penjual sawi menyatakan, walaupun harga sawi murah, yang harusnya kalau ingin mendapatkan hasil besar harus menyediakan dalam jumlah banyak, tapi ia tidak melakukannya. Karena takut harganya akan jatuh kalau di pasar tersedia dalam jumlah berlebih,” ungkapnya.

Sehingga, ia menekankan pentingnya peranan kalangan milenial dalam memastikan keberadaan pangan lokal ini mengambil porsi yang lebih besar di tengah kehidupan warga Indonesia.

“Ya caranya lewat media sosial. Daripada posting sedang makan makanan non-lokal, apa nggak lebih baik posting saat makan rendang atau olahan pangan lokal lainnya. Saya bisa sebutkan kalau rasanya tidak kalah enak kok,” katanya tegas.

Dengan hadirnya tampilan pangan lokal di berbagai  media sosial, harapannya akan banyak orang yang ingin mencoba dan juga ingin memasak menggunakan bahan baku lokal.

“Ambil langsung di petani itu baik. Tapi kalau tidak ada petani, kita bisa memilih alternatif untuk berbelanja di pasar tradisional. Kalau di supermarket, yang ada itu bahan baku impor. Jadi lebih baik ke pasar tradisional,” ucapnya.

Ia menekankan, peran konsumen dalam meningkatkan pangan lokal sangatlah besar.

“Konsumenlah yang harus peduli pada hasil petani kita sendiri. Sehingga para petani mampu menjual semua produknya tanpa takut harga akan menurun. Dan siapa konsumen ini, ya generasi milenial,” pungkasnya.

Lihat juga...