Perilaku Positif Bantu Proses Penyembuhan COVID-19

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Perilaku positif dinyatakan bisa membantu proses penyembuhan penyakit. Bahkan secara rinci, dua orang penyintas COVID 19, Motivator Tung Desem Waringin dan Susi Satiwi Rudiati, menyatakan, bergembira dan berbagi menjadi salah satu yang mereka percayai membantu proses penyembuhan mereka.

Perilaku yang gembira, menurut banyak literatur yang dibaca oleh Tung Desem mampu membantu meningkatkan imunitas tubuh. Merupakan hal yang penting dalam melawan virus COVID 19.

“Saat saya membaca itu, saya mempraktikkannya. Saya bernyanyi dan saya mengajak perawat atau dokter yang ada di sekitar saya untuk ikut berbahagia dengan cara saya,” kata Tung Desem dalam talk show online, Jumat (23/10/2020).

Dan, ia meyakini, perilaku bahagia atau bergembira ini membantunya dalam proses penyembuhan saat ia sedang berada dalam perawatan COVID 19 di salah satu rumah sakit di Jakarta.

“Dan bukan hanya bergembira, saya juga secara teratur meminum air putih hangat. Ingat bukan hanya air putih tapi juga harus hangat. Yang setelah saya pelajari, ternyata meminum air putih hangat itu bukan berpatokan pada 2 liter sehari. Tapi pada berat tubuh seseorang. Secara sains, setiap orang harus membutuhkan 30 cc tiap kilogram berat badannya,” urainya.

Serta, ia juga menyatakan, selama perawatan ia mempraktikkan teknik pernapasan Wim Hoff, yang dinyatakan mampu mencairkan darah, menaikkan kadar O2, menurunkan CO2 dan membuat darah menjadi alkali.

“Saya juga minum VCO. Sehingga saat darah saya diperiksa, kandungan oksigen di dalam darah saya lebih tinggi dibandingkan rerata pasien yang memiliki kondisi sama seperti saya,” ungkapnya.

Perilaku positif ini, menurutnya, tetap berlanjut walaupun ia sudah keluar dari perawatan COVID 19.

“Olahraga, makanan sehat yang mengurangi karbo dan memberi asupan sayur segar dan daging yang proporsional, lebih dekat dengan anak, lebih dekat ke Tuhan. Itulah diri saya yang sekarang,” tandasnya.

Senada dengan Tung Desem, Penyintas COVID 19, Susi Satiwi Rudiati, yang menerima hasil positif corona, satu hari setelah dirinya melakukan tes swab bersama anak dan keluarga besarnya, juga merasakan hasil yang baik dari perilaku positif.

Ia menceritakan, setelah melakukan acara makan bersama saat merayakan salah satu acara dengan keluarga besarnya, ia merasakan badannya sakit. Dan setelah tes, ada 12 orang yang dinyatakan positif dari 18 orang yang hadir saat acara keluarga tersebut.

“Setelah swab dan menerima hasilnya dalam satu hari, hasilnya positif. Ya sempet kaget, kok saya kena juga. Bahkan saya sempat berpikir itu hasil swab anak saya. Dan malam itu juga, kita masuk rawat dalam dua malam, lalu pindah rumah sakit. Anak saya sendiri setelah dua hari, dinyatakan negatif jadi pulang. Tapi dalam dua hari kemudian dites lagi, jadi positif. Akhirnya masuk rumah sakit lagi,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Ia menceritakan, dirinya merasakan sakit kepala yang luar biasa sakit dan tensi mencapai 156, yang biasanya hanya menyentuh angka 120-130.

“Saya nggak habis pikir, saya hanya teriak-teriak dan nangis. Kondisi ini berat buat saya yang hanya memiliki satu ginjal sejak dua tahun yang lalu. Akhirnya saya istighfar dan dibantu oleh suami serta keluarga melalui video call. Karena saya punya ginjal hanya satu, saya bolak-balik tanya apakah obat yang diberikan pada saya itu aman buat kondisi saya yang hanya punya satu ginjal,” katanya bercerita.

Pada satu malam, dimana dirinya merasakan sakit kepala dan tidak bisa tidur, ia melihat seorang cleaning service yang masih bekerja walaupun malam sudah menjelang. Ternyata, orang itu masuk jadwal sif sore.

“Entah kenapa saat mengobrol dengannya, saya merasakan dorongan kuat untuk membantu dirinya. Saya langsung menghubungi suami saya dan bilang kalau saya ingin berbagi dengan cleaning service itu. Suami setuju dan alhamdulillah, cleaning service itu mau menerima keinginan saya untuk berbagi. Saya minta kepadanya untuk didoakan. Saya dan keluarga saya,” paparnya.

Dan, yang terjadi memang tidak disangka-sangka. Esok harinya, Susi menyatakan merasa lebih baik.

“Besoknya dibayar tunai ama Allah, saya langsung merasakan jauh lebih enak. Memang sedekah kepada orang yang membutuhkan bisa meringankan. Dan besoknya saya tes, hasilnya negatif,” imbuhnya.

Senada dengan Tung Desem, ia mempercayai perilaku positif sudah membantu proses penyembuhannya.

“Ya, bahagia yang sesuai dengan definisi kita, makan yang sehat dan cukup, rehat yang cukup dan berbagi,” tandasnya.

Bagian Epidemiologi dan Biostatistik Kesehatan Publik, Universitas Padjajaran, DR. dr. Dwi Agustian, MPH, PhD, menyatakan, apa yang disampaikan oleh Tung Desem Waringin dan Susi Satiwi Radiati merupakan respon individual.

“Manusia itu sudah diciptakan dengan sistem imun yang terbaik. Vaksinasi itu hanya stimulan saja. Tanpa adanya sistem imun tubuh maka vaksinasi juga tidak ada gunanya. Ini satu hal yang menarik, karena berbicara sistem imun maka akan berkaitan dengan keseimbangan spiritual dan kehidupan sehari-hari kita,” ujarnya.

Dalam kehidupan modern ini, lanjutnya, happiness itu sangat berkurang. Dan saat tidak happy, manusia cenderung kurang asupan bergizi, malah hanya memakan makanan yang menyebabkan obesitas. Ditambah dengan tingkat kerja yang tinggi membuat virus lebih mudah masuk ke dalam tubuh kita.

“Sehingga yang terpenting adalah bagaimana seseorang literate tubuhnya, mengenal apa yang dibutuhkan oleh tubuhnya sendiri. Kan yang tahu apa yang dibutuhkan oleh tubuh seseorang itu sebenarnya adalah orang itu sendiri, dengan cara mengenali tubuhnya. Artinya jika kewaspadaan pada tubuh sudah muncul, maka regulasi pemerintah itu hanya sebagai pelengkap dalam menciptakan kesehatan masyarakat,” pungkasnya.

Lihat juga...