Permintaan Pembeli Berkurang, Harga Pisang di Lamsel Anjlok

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Panen melimpah komoditas buah pisang dari lahan pertanian di Lampung Selatan (Lamsel) tak diimbangi serapan permintaan.

Samsul Maarif, petani dan pengepul hasil pertanian buah pisang mengaku, terjadi penurunan harga semua jenis pisang. Penurunan harga semua jenis pisang rata-rata mencapai Rp1.000 hingga Rp3.000 per kilogram bahkan bisa lebih banyak sesuai kondisi buah.

Permintaan buah pisang sebutnya, mengalami penurunan imbas serapan dari pedagang kuliner berkurang. Normalnya permintaan buah pisang digunakan untuk produksi kuliner jenis keripik, kue. Sebagian buah pisang dibeli untuk pembuatan olahan pisang goreng, sale dan roti. Pisang jenis lain dipergunakan untuk hidangan buah pencuci mulut.

Tutupnya sejumlah rumah makan, restoran membuat stok buah pisang tak sebanding dengan permintaan. Semula harga buah pisang jenis kepok, raja nangka, tanduk dijual hingga Rp2.500 per kilogram.

Kini harga bisa anjlok hingga mencapai Rp1.100 maksimal mencapai Rp1.500 per kilogram. Jenis lain yang bisa dijual per kilogram mencapai Rp5.000 anjlok menjadi Rp2.000 per kilogram.

“Kunci lancarnya sektor agro bisnis buah pisang terletak pada permintaan pada usaha hilir berupa produsen kuliner. Tapi imbas pandemi Covid-19 tentunya sangat berpengaruh pada serapan hasil panen petani. Buah pisang juga tidak bisa bertahan lama harus segera dijual karena berpotensi busuk,” terang Samsul Maarif saat ditemui Cendana News di lapak miliknya, Sabtu (17/10/2020).

Samsul mengatakan, buah pisang asal Desa Kelawi dominan jenis muli, raja nangka, kepok, janten dan jenis lain. Semua jenis pisang tersebut banyak diminati oleh pelapak di wilayah Banten dan Bekasi. Namun semenjak pandemi sektor usaha pendukung untuk usaha kuliner yang gulung tikar mengakibatkan serapan buah pisang berkurang.

Samsul sapaan akrabnya, bahkan merelakan puluhan tandan pisang di lapak matang. Pengiriman dengan kuota mencapai 3 hingga 4 ton setiap pekan masih tetap dipenuhi olehnya. Jumlah tersebut telah berkurang sebab sebelumnya ia bisa mengirim dua kali sepekan. Biaya operasional yang tak sebanding membuat ia mengurangi pengiriman buah pisang.

“Saya kerap berikan tandan pisang untuk warga yang tidak memiliki kebun karena hasil panen melimpah,” bebernya.

Kerugian imbas harga buah pisang yang anjlok sebut Samsul, bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan. Samsul menyebut, belum adanya usaha pengolahan buah pisang skala besar di Lampung berimbas ia harus mengirim buah pisang keluar daerah. Sebagian buah pisang meski terserap pasar lokal hanya dalam jumlah terbatas.

Pebisnis buah pisang lain bernama Malik mengaku, memilih sementara istirahat. Warga asal Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni itu mengaku, hasil panen dari sejumlah petani cukup melimpah.

Malik, petani dan pengepul pisang di Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, mempersiapkan pisang janten untuk dijual pada lapak miliknya, Sabtu (17/10/2020) – Foto: Henk Widi

Terlebih jenis pisang muli yang masuk kategori usia panen setiap dua pekan menghasilkan ratusan tandan setiap hektare. Ia memilih melakukan sistem titip dengan pengepul lain.

“Kini lebih efisien dan hemat mengirim buah pisang secara komunal bersama pengepul lain agar biaya operasional bisa ditekan,” cetusnya.

Anjloknya harga pisang oleh serapan yang minim dipengaruhi oleh pandemi Covid-19. Sebab serapan pisang dipengaruhi oleh sektor usaha kuliner dan objek wisata yang berjalan normal. Pusat oleh-oleh keripik pisang di dekat area wisata yang sebagian masih tutup memiliki dampak pada sektor serapan hasil pertanian buah pisang sebagai bahan baku.

Subari, pelapak pisang di Pasar Bakauheni mengaku, memilih buah yang segar. Melimpahnya buah pisang mengakibatkan sebagian stok cepat membusuk.

Pilihan menjual buah yang masih mentah membuat ia bisa mempertahankan tingkat kematangan buah. Jenis buah pisang untuk cuci mulut berupa pisang raja, janten dan muli dijual seharga Rp5.000 hingga Rp10.000 per tandan.

Lihat juga...