Perubahan Cuaca Akibat Fenomena La Nina, Mulai Berdampak di Jateng

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Perubahan cuaca akibat fenomena La Nina sudah mulai berdampak di sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Termasuk curah hujan tidak merata, dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi singkat.

“Jelang akhir bulan Oktober 2020, perubahan cuaca sudah mulai nampak. Pada musim peralihan atau pancaroba, hujan lebat dalam waktu singkat mulai terjadi pada siang dan sore hari, yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang,” papar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang, Tuban Wiyoso saat ditemui Cendana News di Semarang, Rabu (21/10/2020).

Dipaparkan, potensi timbulnya petir yang menyertai hujan, dalam musim pancaroba cukup tinggi. “Pada musim pancaroba, kecenderungan terbentuknya awan yang menjulang tinggi atau awan cumulonimbus (Cb) lebih tinggi. Awan ini terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer, yang berpotensi menciptakan angin kencang, hingga puting beliung, termasuk petir,” paparnya.

Menyikapi hal tersebut, pihaknya mengingatkan masyarakat untuk tidak berada di wilayah terbuka atau lapang, saat hujan disertai petir. Seperti di lapangan, pinggir jalan atau sawah dan ladang.

“Sebisa mungkin saat terjadi hujan petir, jangan berteduh di bawah pohon atau di ruang terbuka. Termasuk saung di tengah ladang atau sawah, karena itu menjadi tempat terbuka. Usahakan segera berteduh di dalam rumah, atau tempat terlindungi,” tambahnya.

Sementara, terkait fenomena La Nina, secara umum masuk kategori moderat atau sedang. Meski demikian, dampaknya juga tetap berpotensi menyebabkan bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor.

“Dari pemetaan yang kita lakukan potensi terbesar wilayah yang terdampak, di Jateng bagian selatan, mulai dari Kebumen, Purworejo, Cilacap, Banyumas, Purbalingga. Selain itu juga di wilayah Jateng bagian timur.  Kenaikan curah hujan di wilayah tersebut, hingga 40 persen dari rata-rata dasarian, sehingga potensi banjir atau pun tanah longsor tinggi, ” tandasnya.

Terpisah, Kasi Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Adi Widagdo, memaparkan menghadapi fenomena La Nia pihaknya, telah telah melakukan mitigasi kebencanaan di awal peralihan musim hujan. Termasuk,melakukan monitor terhadap logistik dan peralatan kebencanaan yang ada di kabupaten/kota.

“Kita juga lakukan koordinasi dengan BPBD di 35 kabupaten/kota di Jateng, untuk menyiapkan peralatan dari segi kebencanaan, termasuk perahu, dapur umum dan logistik,” ujar Adi.

Tidak hanya itu, pihaknya juga meminta masyarakat untuk waspada, dan melaporkan apabila terjadi curah hujan tinggi dalam durasi waktu panjang ke petugas BPBD setempat. Hal tersebut sebagai bentuk monitoring dan kesiapsiagaan.

“Selain itu potensi longsor juga bisa terjadi, khususnya di wilayah Jateng bagian tengah, yang memiliki kontur tanah pegunungan dan perbukitan. Terlebih fenomena La Nina memicu penambahan curah hujan, sehingga ada potensi pergerakan tanah penyebab longsor,” tambahnya.

Lihat juga...