Perumda Wair Puan Bangun Bak Air Layani Kebutuhan Warga

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Wair Puan Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang melayani kebutuhan air bersih warga di Kabupaten Sikka mengandalkan mata air Wair Puan sebagai salah satu sumber air.

Meskipun mata air ini milik warga Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, namun warga mengeluhkan sejak dahulu mereka tidak menikmati air dari mata air ini karena posisi pemukiman berada di bagian atas mata air.

“Memang warga sudah menyampaikan keluhan ini sehingga  kami siap membuat bak air berukuran besar di dekat mata air,” kata Direktur Perumda Wair Puan, Kabupaten Sikka, NTT, Fransiskus Laka saat ditemui Cendana News di kantornya, Sabtu (10/10/2020).

Frans mengatakan, dengan begitu air bisa dipompa dan dialirkan ke Desa Ladogahar sebagai pemilik mata air yang selama ini tidak pernah menikmati air bersih dari mata air tersebut.

Ia berkisah, jaringan air bersih dari mata air ini dibangun tahun 1949. Semenjak didirikannya PDAM Sikka tahun 1983, sampai sekarang mata air ini sudah dipergunakan bagi warga kabupaten Sikka.

“Wair Puan adalah mata air pertama cikal bakal Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Wair Puan adalah air utama, air pokok sehingga ke depannya PDAM menjadi sumber utama untuk pelayanan air bagi masyarakat Kabupaten Sikka,” harapnya.

Kades Ladogahar, Arkadius Arias, mengatakan, mata air ini milik masyarakat Ladogahar tetapi masyarakat di desa tersebut tidak pernah menikmati. Ia menyitir pesan leluhur mereka agar jangan menuntut balasan dan berjalanlah sesuai waktu sebab suatu saat pemerintah tidak akan menutup mata.

Arkdius mengenang cerita tetua di desanya. Dulu ada orang di wilayahnya menciptakan mesin sendiri untuk memompa air tetapi air hanya sampai ke pertengahan lereng kebun saja.

“Air tidak bisa dialirkan hingga ke Desa Ladogahar tetapi hanya di pertengahan jalan saja di sekitar kebun warga. Mesin tersebut pun akhirnya tidak terpakai,” kenangnya.

Ketua Lembaga Pemangku Adat Desa Ladogahar, Kristianus Raja, mengaku pihaknya tetap berpegang teguh pada pesan leluhur mereka agar jangan menuntut mata air ini menjadi hak milik.

Pelaksanaan ritual adat yang digelar di mata air Wair Puan, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT agar debit mata air bisa meningkat, beberapa waktu lalu. Foto: Ebed de Rosary

Bahkan bila hujan tak kunjung turun, sebut Kristianus, pihaknya turut prihatin sehingga membuat ritual adat meminta hujan.

“Selalu kami laksanakan ritual adat Tung Piong, memberi makan leluhur dan nenek moyang. Kami percaya mereka juga berdiam di mata air ini,” papar Kristianus.

Lihat juga...