Petani di Bekasi Hasilkan Rp9 Juta/Bulan dari Budi Daya Genjer

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Tanaman genjer dengan nama latin Limnocharis flava, merupakan jenis tanaman rawa yang banyak ditemukan di sawah atau perairan dangkal dan dianggap kurang bernilai jual. Namun, sayuran tersebut memberi penghasilan tersendiri bagi pembudidaya di Bekasi.

Sudarsa (54), membudidayakan genjer di atas lahan 2.600 meter persegi yang disewanya di wilayah Jalan Perwira, Bekais Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat. Dia mengaku melihat prospek pasar sayur Babelan yang banyak diisi dari luar Bekasi.

Namun demikian, semua jenis sayuran yang dibudidayakan Sudarsa memiliki waktu lebih lama untuk dipanen dibanding seperti jenis sayuran bayam, kangkung atau lainnya.

“Harga genjer di pasar sayur Pelelangan Babelan, Kabupaten Bekasi cukup menarik. Tapi, biasanya disuplai dari luar daerah. Karena itu, saya melihat ini peluang bagus,” ungkap Sudarsa kepada Cendana News, di areal sawahnya, Senin (12/10/2020).

Tanaman genjer biasanya bisa ditemukan bersama dengan eceng gondok, tapi Sudarsa mengaku jenis genjer yang dibudidayakannya adalah jenis goning yang lebih diminati di pasaran. Dia membudidayakannya di atas lahan sawah bersama tanaman lainnya seperti padi.

Tanaman genjer banyak dimanfaatkan daunnya untuk tumisan, lalapan, atau campuran pada gado-gado atau pecel. Sayuran genjer mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional, namun di pasar modern atau swalayan masih agak jarang diemukan.

“Pengepul, ya memang di pasar tradisional. Di pasar sayur Pelelangan Babelan semua jenis sayuran ada dari berbagai daerah. Memang, di sana pusatnya,” kata Sudarsa.

Menurutnya, musuh tanaman genjer adalah tikus. Untuk meminimalisir, maka dia membuat pagar menggunakan plastik agar tidak dimasuki tikus.

Sementara untuk perawatan, hanya sesekali, seperti membersihkan rumput. Hal itu dilakukan selama dua Minggu sekali agar mendapatkan hasil maksimal.

“Genjer tidak perlu perawatan maksimal. Hanya pertama kali tanam saja. Setelah sebulan bisa panen. Perawatan hanya membersihkan rumput saja,” tukasnya.

Dari budi daya genjer goning, Sudarsa mengaku sebulan bisa menghasilkan Rp9 juta. Tapi untuk biaya ikat dan petik ia harus mengeluarkan biaya Rp2,5 jutaan. Karena harus mengupah, tidak mungkin dilakukan sendiri.

“Sebulan panennya empat kali setiap Minggu. Langsung diikat dan dikirim ke pasar Sayur Pelelangan Babelan. Jaraknya pun dekat, jadi biaya lebih minim,” paparnya.

Diakuinya, untuk petani sayur tidak ada bantuan dari pemerintah seperti pupuk subsidi. Karena, pupuk subsidi hanya dikhususkan bagi petani padi.

Lihat juga...