Petani Ikan di Lamsel Gunakan Pakan Alternatif, Tekan Biaya Produksi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah pelaku usaha sektor perikanan air tawar dan perunggasan di Lampung Selatan, memilih menggunakan pakan alternatif untuk menekan biaya pakan.

Edi Gunawan, salah satu pembudidaya ikan yang usahanya masuk kategori usaha ultra mikro, mengatakan, penggunaan pakan alternatif jenis dedak penggilingan gabah masih digunakan untuk penghematan.

Menurutnya, efisiensi penggunaan pakan pada sektor usaha budi daya, masih bisa dipenuhi dari limbah pabrik. Selama ini, sejumlah petani yang memiliki residu penggilingan padi kerap menjual dedak ke pemilik pabrik. Dedak yang telah terkumpul selanjutnya akan dijual ke pemilik ternak unggas dan pembudidaya ikan air tawar. Ia membeli dedak rata-rata satu kuintal untuk kebutuhan satu bulan.

Per kilogram dedak dibelinya seharga Rp5.000, lebih tinggi dibandingkan sebelumnya mencapai Rp2.500 per kilogram. Selain dedak, ia memanfaatkan limbah dari sejumlah rumah makan. Jenis nasi sisa, sayuran dan sejumlah makanan sisa bisa menjadi tambahan untuk pakan ikan lele jenis mutiara.

“Penggunaan pakan pabrikan tetap diberikan dalam sehari, pakan alternatif hanya sebagai sumber asupan tambahan, karena usaha budi daya lele bergantung pada pakan untuk mendapatkan bobot daging ikan yang layak jual,” terang Edi Gunawan, saat ditemui Cendana News, Selasa (20/10/2020).

Warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan itu memakai terpal dan kolam semen ukuran 4×5 meter untuk budi daya ikan. Menekuni usaha budi daya lebih menguntungkan, sebab harga benih terjangkau. Per seribu benih lele mutiara ukuran 8 cm, ia membeli seharga Rp100.000. Dalam waktu tiga hingga empat bulan dengan sistem sortir diperoleh sekitar 500 kilogram ikan.

Butiran dedak jadi salah satu alternatif solusi kebutuhan pakan ikan lele bagi pemilik usaha budi daya ikan, Selasa (20/10/2020). -Foto: Henk

Hasil budi daya ikan lele akan ditampung oleh pengepul dengan harga Rp16.000 per kilogram.

Saat pasokan melimpah, harga bahkan bisa anjlok hingga Rp15.000 per kilogram. Dibeli rata-rata seharga Rp15.000 saja untuk ukuran setengah ton, ia masih mendapat omzet Rp7,5juta. Hasil tersebut akan dipotong biaya pakan, biaya operasional dan distrubusi.

“Keuntungan bersih masih bisa mendapat minimal dua juta, diputar lagi untuk modal budi daya berikutnya,” tegasnya.

Pemakaian pakan alternatif, sebutnya, menjadi pilihan untuk penghematan pakan. Menggunakan pakan yang dibeli dari pabrik akan mengurangi jumlah keuntungan. Ia bahkan terus belajar dari teman sesama pembudidaya ikan lele dan dari internet. Sistem penghematan pakan dengan penggunaan suplemen organik cair menjadi cara agar ikan cepat besar.

Suyatno, pemilik budi daya ikan nila dan lele, juga mengaku memakai dedak atau bekatul. Usaha budi daya ikan air tawar, menurutnya sangat bergantung pada pakan untuk mempercepat pertumbuhan. Sistem pemberian pakan yang seimbang akan mempercepat ikan menjadi besar untuk konsumsi warung pecel lele. Serapan terbesar dari pemilik usaha kuliner untuk rantai distribusi hasil budi daya.

“Pakan yang bisa dihemat, namun ikan cepat besar dalam waktu singkat akan memberi profit bagi pembudidaya,” tegasnya.

Pembudiaya ikan lainnya, Muksin, asal Desa Gayam, mengaku memelihara ikan gurami. Ikan pemakan segala itu bisa tumbuh sempurna dengan pakan pelet dan daun talas. Selain itu, dedak mempercepat pertumbuhan ikan hingga mencapai ukuran konsumsi. Ikan gurami bisa dipanen saat usia lima hingga enam bulan.

Harga ikan gurami yang mencapai Rp35.000 per kilogram, cukup menjanjikan. Selain pakan daun talas, ia memanfaatkan pakan dari proses pencampuran dedak, minyak ikan, tepung ikan dan tepung roti. Proses pencampuran bahan pakan itu bertujuan untuk menghemat penggunaan pakan pabrikan.

“Harga pakan pabrikan terus naik, sehingga biaya produksi dipastikan akan sangat memberatkan,” bebernya.

Ia mengaku tetap membeli pakan pabrikan hanya sebagai tambahan. Sejak belajar cara membuat pakan berbahan dedak dan berbagai campuran nutrisi, ia lebih berhemat.

Lihat juga...