Petani Sayur di Jatiluhur Berharap Dapat Jatah Pupuk Subsidi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Petani sayuran di wilayah Kelurahan Jatiluhur, Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, berharap bisa mendapatkan jatah pupuk bersubsidi untuk tanaman mereka.

“Saya sudah kumpulkan petani sayuran bersama Ketua RW setempat agar didata dan membuat kelompok tani baru agar bisa diusulkan untuk mendapat pupuk subsidi,” kata Maman warga Jatiluhur kepada Cendana News, Senin (26/10/2020).

Maman (pegang mikropon) saat mengumpulkan petani sayur di rumah RW setempat untuk dilakukan pendataan guna diajukan agar mendapat fasilitas pupuk subsidi, Senin (26/10/2020) – Foto: Muhammad Amin

Menurutnya, sebelumnya petani sayur di wilayah Jatiluhur telah memiliki kelompok tani. Namun sekarang disepakati berganti nama atau peremajaan menjadi Kelompok Tani Luhur Asri. Harapannya tentu agar bisa mendapat kemudahan dalam memperoleh pupuk bersubsidi.

Dikatakan, jumlah petani sayur di Jatiluhur masih banyak. Mereka didominasi warga tempatan yang memanfaatkan lahan perusahaan untuk digarap menjadi tempat budi daya aneka sayur, sampai lahan tersebut belum difungsikan oleh perusahaan atau pemilik.

Dikonfirmasi, apakah petani sudah memiliki kartu tani, menurut Maman, sebagian telah memegang kartu tani. Tapi yang jadi kendala adalah warung tempat menebus pupuk bersubsidi tidak tersedia di wilayah Jatiasih. Dia menduga kemungkinan terputus komunikasi sehingga petani sayur bingung mendapatkan akses.

“Saya rasa ini mungkin koordinasi yang kurang antara penyuluh lapangan dengan petani sayur. Karena setahu saya pupuk subsidi masih tersedia di kota Bekasi. Ini kami kumpulkan untuk didata agar bisa mendapatkan pupuk subsidi,” tukasnya.

Terpisah, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Jatiasih-Pondok Melati, Solihin, menyampaikan bahwa petani sayur dan padi bisa mendapatkan pupuk subsidi asalkan sudah terdata melalui usulan e-RDKK sehingga petani terfasilitasi pupuk bersubsidi.

E-RDKK adalah Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok, merupakan penerimaan pupuk subsidi dan Kartu Tani yang diterapkan Kementerian Pertanian (Kementan). Salah satu tujuannya, meningkatkan akurasi sasaran penerima pupuk bersubsidi, serta meminimalisasi kebocoran akibat pendataan ganda.

Khusus petani sayur di wilayah Jatiluhur, lanjut Solihin, menyampaikan bahwa petaninya hanya diam. Artinya penyuluh sudah menginformasikan tata cara agar bisa mengakses pupuk subsidi. Tapi mereka sepertinya terbentur soal keuangan.

“Kemungkinan petani selama ini menduga bahwa pupuk subsidi itu gratis. Padahal pupuk subsidi tetap harus nebus dengan harga yang telah ditentukan pemerintah. Tidak gratis,” tegasnya.

Dia mengatakan, bahwa banyak kelebihan jika bisa mengakses pupuk subsidi. Seperti harganya di warung yang biasa mencapai Rp8000-an/kg dengan subsidi petani hanya menebus Rp2100.

“Jadi saya tegaskan tidak benar jika penyuluh tidak kooperatif. Karena kami sudah maksimal di lapangan tetapi mereka diam saja,” pungkasnya.

Lihat juga...