Potensi Banjar sebagai Sentra Pengembangan Ikan Gabus

BANJARMASIN  – Dinas Perikanan Kalimantan Selatan mendukung upaya pengembangan budi daya ikan gabus atau haruan yang dilakukan pengusaha perikanan di Kabupaten Banjar.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalsel, Muhammda Fedheli, usai meninjau sentra pengembangan budi daya ikan haruan di Kabupaten Banjar, Rabu mengatakan, sangat mendukung upaya pengembangan budi daya haruan milik Habib Zulfadli Assegaf tersebut.

“Kita siap membantu melakukan pelatihan, akan segera kami koordinasikan dengan dinas perikanan Kabupaten Banjar,” katanya.

Menurut Kadis, dia optimistis budi daya ikan haruan seluas lima hektare tersebut bisa berhasil, karena investor tetap melakukan budi daya secara alami, tidak mengubah lingkungan dan pola hidup ikan haruan.

Budi daya ikan haruan milik Habib Zulfadli Assegaf atau biasa dipanggil Habib Zain tersebut, tambah dia, sama sekali tidak mengubah lingkungan tempat haruan hidup, sehingga kemungkinan pengembangan budi daya tersebut berhasil cukup tinggi.

“Saya harap, melalui budi daya ini, akan mampu meningkatkan produksi ikan lokal Kalsel dan bisa menjadi contoh pengembangan bagi daerah lain,” katanya.

Pengusaha budi daya ikan Kalimantan Selatan, Habib Zien mengatakan, dia menargetkan persiapan kawasan sentra pembibitan dan pembesaran ikan lokal haruan selesai akhir Desember 2020.

Menurut Habib, pihaknya sedang mempersiapkan pembuatan sebanyak seribu kolam indukan haruan yang terbagi dari 200 kolam dengan ukuran 2 x 3 meter ditambah 300 kolam yang menggunakan terpal dan 500 kolam dari gorong-gorong.

Selain itu, juga akan dibangun sebanyak 300 kolam pembesaran untuk selanjutnya siap dipanen. Nantinya, tambah dia, tiap kolam akan diisi satu pasang induk haruan dengan berat minimal ½ kilogram per ekor dan masing-masing indukan bisa menghasilkan 5 – 10 ribu ekor haruan per bulan.

“Dari total kolam dan indukan yang dikembangkan tersebut, diperkirakan akan mampu menghasilkan 10 juta ekor per bulan,” katanya.

Habib mengungkapkan, sebelum pengembangan skala besar tersebut dilakukan, pihaknya telah melakukan uji coba pengembangan selama dua tahun dibantu dengan tenaga ahli dosen Uniska maupun beberapa tenaga ahli lainnya.

“Dari uji coba tersebut, kami mampu mempelajari pola hidup dan pengembangan haruan dengan baik, kami harap upaya ini bisa berhasil,” katanya.

Melalui pengembangan sentra budi daya haruan tersebut, selain untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga inflasi Kalsel yang disebabkan dari ikan haruan, juga untuk memenuhi kebutuhan industri albumen yang juga akan dibangun di kawasan tersebut.

Pengembangan budi daya tersebut, juga  dilakukan dengan pondok pesantren yang ada di sekitar wilayah Kabupaten Banjar.

“Berapa pun ikan yang akan dihasilkan dari pondok pesantren akan kami beli,” katanya. (Ant)

Lihat juga...