Produk Olahan Kelapa Sumbar Rambah Berbagai Negara

Editor: Makmun Hidayat

PADANG — Ada sejumlah produk olahan dari kelapa di Provinsi Sumatera Barat turut mengisi sejumlah pasar ekspor di berbagai negara kendati masih dilanda pandemi Covid-19.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumatera Barat, Syafrizal, mengatakan olahan kelapa yang diekspor itu adalah kelapa parut, santan kelapa, air kelapa, dan kelapa serabut.

“Jumlah yang diekspor pun cukup banyak dan tujuannya negaranya pun untuk negara-negara besar di Eropa dan juga Asia,” kata Syafrizal ketika dihubungi di Padang, Jumat (16/10/2020).

Menurutnya berdasarkan data dari Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang kegiatan ekspor dari berbagai olahan kelapa itu terbilang cukup konsisten dari waktu ke waktu. Seperti halnya untuk ekspor santan kelapa hingga bulan Juli 2020 total ekspor telah dilakukan sebanyak 13 kali.

Syafrizal di salah satu kegiatannya. -Foto: M. Noli Hendra

Di mana ekspor santan kelapa ke Negara Belanda itu jumlahnya 82 ribu kilogram dengan pengiriman sampai Juli sebanyak 5 kali. Lalu juga mengirim ke Negara Belgia dengan jumlah santan yang diekspor 90 ribu kilogram dan jumlah frekuensi ekspornya pun sama ke Belanda.

Selanjutnya santan kelapa juga diekspor ke Inggris di mana jumlahnya memang tidak sebanyak ke Belanda dan Belgia yakni di mana ekspor ke Inggris itu sebanyak 38.400 kilogram santan kelapa dengan frekuensi pengiriman sebanyak 2 kali. Lalu juga turut mengekspor santan kelapa ke Taiwan sebanyak 18 ribu kilogram dan baru dilakukan 1 kali ekspor.

“Jadi total nilai ekspor santan kelapa ke empat negara itu sampai Juli tercatat Rp4 miliar lebih. Dan perusahaan yang melakukan ekspor santan kelapa ini adalah PT Bumi Sarimas Indonesia,” ujar pria yang akrab disapa Jejeng ini.

Untuk PT Bumi Sarimas Indonesia itu tidak hanya ekspor produk santan kelapa saja, tapi juga mengekspor air kelapa, dan kelapa parut. Di mana untuk air kelapa itu di ekspor ke Belanda sebanyak 50 ribu kilogram dan Belgia 16 ribu kilogram dengan total nilai ekspor mencapai Rp1,2 miliar lebih.

Sedangkan untuk ekspor kelapa parut hanya ada satu tujuan negara ekspor yakni Taiwan dengan jumlah 24 ribu kilogram dengan nilai ekspor Rp134 juta lebih. “Untuk ekspor produk kelapa ini memang di-handle langsung oleh PT Bumi Sarimas Indonesia,” jelasnya.

“Melihat situasi seperti itu dan dengan adanya kondisi pandemi Covid-19 ini sebenarnya tidak berdampak. Hal ini lah yang kita harapkan sehingga ekonomi tetap tubuh,” sebut dia.

Jejeng menyatakan untuk perkebunan kelapa ini yang terbesar itu ada di Kabupaten Pesisir Selatan dan Padang Pariaman. Kedua daerah di Sumbar ini memenang memiliki hamparan perkebunan kelapa yang luas karena berada di daerah kawasan pantai.

Selain itu dara data yang dihimpun oleh Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar luas lahan perkebunan kelapa di Sumbar itu 87.298 hektar dengan produksi 78.902 ton. Rata-rata per hektar lahan itu produktivitasnya 1.200 kilogram.

“Cukup banyak masyarakat di Sumbar ini yang berkebun kelapa ya karena pasarnya yang bagus. Jumlahnya itu 213.971 orang yang melakukan usaha perkebunan kelapa itu,” tegas dia.

Menurut Jejeng cukup besarnya jumlah ekspor produk kelapa itu tidak mempengaruhi kebutuhan produk kelapa di Sumbar. Sebab bisa dikatakan produksi kelapa di Sumbar berlimpah, sehingga adanya ekspor tersebut turut membantu pemasaran lebih luas.

“Kan di sejumlah pasar di Sumbar ini banyak usaha jual santan kelapa. Nah kebutuhan pelaku usaha seperti itu juga besar,” sebut dia.

Untuk itu, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar tetap membantu pengembangan perkebunan kelapa di Sumbar dengan cara memberikan bimbingan serta bibit kelapa yang berkualitas.

Persoalan produksi kelapa yang masih jalan ini, dibenarkan oleh salah seorang petani kelapa di Pesisir Selatan, Edi. Ia mengatakan bahwa penjualan kelapa di masa pandemi Covid-19 ini bisa disebut tidak terdampak terlalu besar.

“Bicara dampak tentu ada setidaknya dari harga. Tapi soal penjualan tetap lancar dan buktinya hasil kebun kelapa saya selalu dijual dengan rentang panen satu bulan sekali,” ungkap dia.

Edi mengaku jika pun produksi kelapanya tidak ditampung oleh perusahaan olahan kelapa, permintaan dari pelaku usaha lokal cukup banyak. Seperti usaha menjual santan kelapa yang ada ada di sejumlah pasar.

“Para pelaku usaha jual santan kelapa di pasar banyak yang pesan juga, alhamdulillah meski lagi Covid-19 ekonomi tetap jalan,” sebut dia.

Lihat juga...