Program Peduli Pangan, Upaya Jaga Ketahanan Pangan Lokal

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Dalam upaya menjaga keberadaan pangan lokal dan sekaligus menjadikan pangan lokal sebagai cara untuk menolong sesama selama masa pandemi, program peduli pangan diluncurkan ke masyarakat dan mengajak semua elemen masyarakat untuk berpartisipasi.

Data BPS bulan Mei 2020, menunjukkan adanya penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 0.85 persen, yang artinya ada penurunan tingkat daya beli petani dan daya tukar produk pertanian, yang berpotensi mengakibatkan penurunan pasokan pada kelompok rentan.

Project Manager Peduli Pangan, Dede Rina, menyampaikan saat pandemi ini, LIPI menyebutkan kelompok rentan adalah orang miskin, petani dan anak-anak.

“Inilah yang mendorong kami untuk meluncurkan program ini. Dengan mengajak generasi muda untuk lebih aktif dalam mengkonsumsi pangan lokal dan tradisional, diharapkan efeknya akan terasa langsung pada petani lokal dan komunitas pangan lokal. Tentunya harapannya, roda perekonomian akan tetap berputar dan kelompok rentan akan terhindar dari krisis pangan,” kata Rina saat talkshow online peduli pangan, Jumat (16/10/2020).

Rina menjelaskan pemilihan dapur umum di daerah Penjaringan dan Cilincing Jakarta Utara yang dibangun atas kerja sama tujuh komunitas ini berdasarkan data bahwa daerah tersebut yang paling membutuhkan pangan bergizi dan yang paling terdampak.

“Skemanya adalah kita memasak 1.000 porsi per hari dengan menggunakan 20 relawan untuk membantu asupan bergizi bagi masyarakat yang terdata memang membutuhkan. Dan seluruh bahan bakunya, baik sayur maupun bumbu, kita ambil dari petani secara langsung,” urainya.

Dengan melakukan skema ini, harapannya target petani untuk mendapatkan hasil dari lahannya dan asupan gizi bagi kelompok rentan dapat terpenuhi.

“Saya mendorong semua pihak bisa berpartisipasi dalam program ini. Baik berpartisipasi dalam program peduli pangan secara langsung maupun dengan lebih memilih pangan lokal dalam setiap masakan yang akan dibuat atau makanan yang akan dikonsumsi,” ucapnya.

Chef Reyhan Dira saat talkshow online peduli pangan, Jumat (16/10/2020). -Foto Ranny Supusepa

Chef Reyhan Dira, yang juga terlibat dalam program peduli pangan ini, menyatakan bahwa bahan baku lokal Indonesia berpotensi besar untuk dijadikan makanan yang sehat dan juga tidak mahal.

“Bahan baku lokal itu pastinya murah dan mudah untuk didapatkan. Kalau tidak ke petani langsung ya ke pasar. Kalau tidak bisa ke pasar, ya ke tukang sayur keliling yang memang sudah ada di berbagai daerah di Indonesia,” katanya dalam kesempatan yang sama.

Dan, bahan pangan lokal, ujarnya sudah pasti lebih sehat. Karena semua didapatkan dalam kondisi segar dan bumbunya juga segar, bukan instan.

“Variasi makanan yang bisa dibuat juga banyak. Artinya, kita bisa menjadi sehat dan juga bisa membantu petani lokal untuk mendapatkan nilai ekonomi dari produk yang dimilikinya,” ungkapnya.

Ia juga mendorong para milenial untuk lebih mengeksplore makanan lokal Indonesia yang sekarang semakin tersisihkan oleh banyaknya produk non lokal.

“Coba leunca, coba pare (paria-Red). Itu semua asli Indonesia, sehat dan enak. Intinya jangan takut mencoba pangan lokal. Dan jangan malu untuk posting sedang memakannya. Karena dengan mengonsumsi pangan lokal, sama saja kita juga membantu petani dan masyarakat di sekitar kita,” pungkasnya.

Lihat juga...