Pupuk Kotoran Kembalikan Kualitas Tanah Imbas Bahan Kimia

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Penurunan kualitas atau degradasi tanah pertanian terus berlangsung di wilayah Lampung Selatan sejak lima tahun terakhir. Ardi, salah satu petani pisang mengakui sebelumnya satu rumpun pohon pisang bisa menghasilkan buah bertandan besar dan jumlah sisir yang banyak.

Semenjak kualitas tanah gembur berganti tanah padas ia mulai memakai pupuk kimia. Jenis pupuk kimia yang digunakan berupa Urea, NPK dan Phonska. Meski kurang memahami unsur kimia pupuk, namun pengalaman empiris sebagai petani bisa membedakan kondisi tanah yang berubah tandus. Semula subur tanah terus bergantung pada pupuk kimia.

Jenis rumput yang tumbuh diakuinya berubah menjadi jenis rumput kawatan yang keras. Sebelumnya tanah gembur masih kerap ditumbuhi rumput sintrong, ciplukan hingga rumput untuk pakan ternak. Pilihan mengembalikan kesuburan tanah dilakukan olehnya dengan aplikasi pupuk kotoran ternak. Pupuk tersebut berasal dari peternak setelah dikeringkan.

“Campuran yang diberikan berupa sekam padi, serbuk gergaji, serbuk sabut kelapa lalu dicampur dengan bubuk kapur ditambah dengan cairan organik cair yang difermentasi pada tempat khusus selanjutnya bisa digunakan sebagai pupuk setelah dikeringkan,” terang Ardi saat ditemui Cendana News di kebunnya, Rabu (7/10/2020).

Semua bahan campuran pupuk tersebut selanjutnya akan dimasukkan dalam karung. Setiap rumpun tanaman pisang akan diberi dua karung pupuk saat musim kemarau. Pemberian pupuk kandang pada area tumbuh pisang akan menjaga kelembaban. Dampak positifnya tunas baru akan bermunculan. Kondisi tanah juga akan kembali subur.

Penggunaan pupuk kotoran ternak sebutnya dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Perubahan penanganan pada tanah dengan pemberian pupuk kimia sebutnya berdampak signifikan. Saat lahan pertanian lain alami kekeringan ia memastikan sekitar 1000 tanaman pisang miliknya tetap subur.

“Berbagai jenis pisang masih tetap produktif saat kemarau dengan pola penggunaan pupuk yang lebih ramah lingkungan,” cetusnya.

Pada proses penanaman tahap awal setiap lubang akan diberi kotoran ternak. Sebagian lubang sebutnya akan digunakan saat musim penghujan tiba. Aplikasi pupuk kandang sebutnya berpotensi efek samping tumbuhnya gulma rumput. Sebagai cara penanganan petani melalukan sistem koret untuk pembersihan rumput. Cara itu meminimalisir bahan kimia herbisida.

Nurmaidi, petani lain di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan memanfaatkan pupuk kotoran sapi dan kerbau. Kala musim kemarau penghamparan pupuk kotoran ternak potensial dilakukan. Sebab kotoran ternak bisa langsung dicampur saat proses pengolahan lahan. Sistem traktor tangan memudahkan pencampuran tanah dan pupuk.

“Sembari penebaran pupuk dilakukan pengolahan tanah sehingga kondisi tanah bisa tetap terjaga,” bebernya.

Meski telah melakukan proses pengolahan dengan traktor tangan,penanaman jagung belum bisa dilakukan. Ia akan menunggu masa penghujan tiba diprediksi bulan November mendatang. Selama menunggu masa tanam ia akan melakukan pembuatan guludan untuk irigasi.

“Tanah yang telah tercampur pupuk kotoran ternak akan dibuat guludan sekaligua mengatur jarak antar tanaman,” cetusnya.

Meski sadar pemakaian pupuk kimia menurunkan kualitas tanah, Agus Irawan tetap bertahan memakai pupuk kimia. Pupuk Urea, NPK, Phonska sebutnya efektif menyuburkan tanah untuk nutrisi tanaman. Selama waktu tiga bulan pertumbuhan jagung pupuk kimia tetap diperlukan. Ia juga enggan menggunakan pupuk kotoran ternak karena lebih sulit memperolehnya.

“Peternak kambing, sapi di wilayah ini tidak terlalu banyak jadi tidak cukup untuk lahan satu hektare,” cetusnya.

Agus Irawan juga beralasan lahan yang digarap merupakan lahan kontrakan. Ia tetap memakai pupuk organik sebagai campuran yang dibeli dari toko pertanian. Pupuk organik tanpa bahan kimia sebutnya mulai banyak dijual sebagai tambahan pupuk kimia. Penggunaan pupuk organik memiliki manfaat menambah nutrisi bagi tanah untuk tanaman jagung.

Lihat juga...