Pupuk Subsidi Dikurangi, Alternatif Penggunaan Kotoran Ternak Meningkat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah petani di Lampung Selatan (Lamsel) memilih beralih menggunakan pupuk alternatif dari kotoran ternak.

Suyatinah, pemilik lahan sawah seluas satu hektare di dua lokasi menyebut, telah menyiapkan puluhan karung kotoran ternak. Dikenal dengan pupuk kandang ia meminta dari peternak sapi total sebanyak lima ton.

Suyatinah, menyiapkan puluhan pupuk kandang dari kotoran sapi untuk ditebarkan pada lahan sawah di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Senin (5/10/2020) – Foto: Henk Widi

Alternatif kotoran ternak sapi sebagai pupuk sebut Suyatinah, usai adanya keputusan pengurangan kuota pupuk subsidi. Sebelumnya pengajuan pupuk subsidi melalui kelompok tani (Poktan). Pendataan alokasi kebutuhan pupuk Urea, NPK, Phonska dan SP-36 harus melalui Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Meski alokasi kebutuhan petani diberi kuota satu ton per hektare ia menyebut jenis SP-36 ditarik dari kategori pupuk subsidi. Imbasnya pada masa tanam 2021 ia harus menebus pupuk SP-36 nonsubsidi seharga Rp260.000 per sak atau isi 50 kilogram. Sebelumnya harga pupuk SP-37 subsidi seharga Rp100.000 per sak.

“Petani harus putar otak agar menghemat biaya operasional untuk menyuburkan lahan, apalagi usai panen masa tanam kemarau atau gadu pupuk kotoran ternak tepat ditebarkan pada lahan. Selanjutnya diolah bersama tanah untuk masa tanam penghujan atau rendengan,” terang Suyatinah saat ditemui Cendana News di Desa Kelaten, Senin (5/10/2020).

Sebagian besar petani di Kecamatan Penengahan sebut Suyatinah, mulai memilih alternatif pupuk kandang. Pasalnya dengan penggunaan pupuk SP-36 sebanyak 10 sak saja ia harus mengeluarkan biaya Rp2,6 juta.

Jenis pupuk urea subsidi sebutnya masih normal pada harga Rp90.000 per sak. Jenis pupuk NPK subsidi per sak dibeli seharga Rp115.000 dan dibeli dengan harga sama Rp115.000 per kilogram.

Ditariknya pupuk SP-36 dari pupuk subsidi menurut Suyatinah, memberatkan petani. Pasalnya saat panen gadu bulan September hingga Oktober hasil panen padi diserang hama wereng.

Imbasnya harga jual hanya mencapai Rp400.000 per kuintal. Jika dikalkulasi satu sak gabah kering panen (GKP) seharga Rp100.000 masih kurang untuk membeli SP-36 nonsubsidi seharga Rp260.000 per sak.

“Petani tentunya dirugikan, namun saat ini jadi waktu untuk berkreasi memakai pupuk kandang untuk menambah unsur hara tanah,” bebernya.

Suharso dan Wayan Mayor dua petani di Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang menyebut, memilih memakai pupuk kandang. Beruntung petani dominan sekaligus memelihara sapi untuk memenuhi kebutuhan pupuk kandang.

Suharso, salah satu petani mengolah lahan jagung untuk menanam jagung, proses pengolahan lahan memakai mesin traktor sekaligus untuk menghamparkan pupuk, Senin (5/10/2020) – Foto: Henk Widi

Sebagian dipasok dari pemilik ternak besar dengan sistem pembelian hanya membayar ongkos kirim. Sebab peternak besar akan senang jika limbah kotoran sapi dimanfaatkan sekaligus membersihkan kandang.

“Musim kemarau tepat menebarkan pupuk kandang berbarengan dengan pengolahan tanah memakai traktor,” cetus Suharso.

Sebanyak sepuluh ton lebih pupuk kotoran sapi ditebarkan pada lahan yang diolah. Selain kotoran sapi ia menggunakan kotoran ayam dari peternak di desa setempat.

Kedua jenis pupuk tersebut menjadi cara efisiensi penggunaan pupuk kimia yang kini dikurangi jenis yang bersubsidi. Alokasi kebutuhan pupuk sebanyak 10 ton untuk dua hektare miliknya dipastikan berkurang.

Keputusan pemerintah melalui Kementerian Pertanian sebut Suharso, cukup memberatkan. Terlebih saat pandemi Covid-19 ia menerima kabar pahit pengajuan pupuk subsidi masa tanam 2021 pupuk subsidi dikurangi. Pengajuan tetap sama dengan 2020 hanya saja jenis Urea, NPK dan Phonska yang masuk subsidi. Sementara jenis SP-36 dinonsubsidikan.

“Harga pupuk semakin mahal sementara hasil panen jagung kami selalu dihargai rendah, biaya operasional meningkat, jadi alternatif pupuk kandang kami gunakan,” terang Suharso.

Suwarna, petani padi di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan mengaku, telah memesan pupuk untuk masa tanam berikutnya. Alokasi pupuk bagi petani yang dikurangi jenis subsidi membuat ia mencari cara lain untuk pasokan nutrisi tanah.

Tanah yang subur menjadi kunci untuk pertumbuhan tanaman. Sementara saat SP-36 dinonsubsidikan memberatkan petani.

“Selain memakai pupuk kotoran ternak cara lain dengan memakai pupuk cair dan juga organik yang dibuat dari kompos,” terang Suwarna.

Serapan pupuk kotoran ternak, pupuk organik sebutnya, akan semakin meningkat di tahun 2021. Langkah tersebut sekaligus berdampak positif bagi pemilik ternak.

Sebab dengan pemanfaatan pupuk untuk alternatif penambah kesuburan tanah, peternak bisa menjual pupuk kandang. Kotoran ternak yang telah difermentasi dan menjadi pupuk mengurangi pemakaian pupuk kimia.

Lihat juga...