Purbalingga Terus Gencarkan Kampanye Gemarikan

Editor: Koko Triarko

PURBALINGGA – Ikan mempunyai banyak kandungan yang bermanfaat bagi kesehatan ibu hamil dan bayi, sehingga mengkonsumsi ikan sangat disarankan untuk para ibu hamil dan menyusui. Karenanya, kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) terus dilakukan di Kabupaten Purbalingga.

Pjs Bupati Purbalingga, Sarwa Pramana, mengatakan sampai saat ini angka kematian ibu dan anak masih tinggi di Jawa Tengah. Data terakhir tahun 2019, angka kematian ibu dan anak tertinggi di Jateng adalah Kabupaten Brebes dan sekarang bergeser ke Kabupaten Grobogan.

“Faktor kemiskinan memang berkaitan erat dengan angka kematian ibu dan bayi, namun hal tersebut dapat diminimalisir dengan gerakan gemar makan ikan, karena ikan yang tinggi proteinnya ini sangat bermanfaat bagi kesehatan ibu dan bayi,” kata Sarwa, Jumat (23/20/2020).

Pjs Bupati Purbalingga, Sarwa Pramana di Purbalingga, Jumat (23/10/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Lebih lanjut Sarwa Pramana menjelaskan, pemerintah sangat peduli dengan kesehatan ibu dan bayi.  Anak yang akan dilahirkan harus sehat dan cerdas, sehingga kondisi ibu hamil sampai menyusui harus terpantau kesehatannya. Dengan harapan, bayi yang dilahirkan sehat dan bebas stunting.

“Ibu hamil harus dipantau kesehatannya mulai dari awal kehamilan hingga pascamelahirkan. Ini menjadi tugas para tenaga medis, terutama di puskesmas-puskesmas dan tanggung jawab kita semua,” terangnya.

Untuk mencegah stunting serta menjaga kesehatan ibu dan anak, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Purbalingga terus mengkampanyekan gerakan gemar makan ikan. Saat ini ada 9 desa yang menjadi sasaran kampanye gemarikan.

“Selain mengedukasi masyarakat tentang manfaat ikan, kita juga bagikan ikan segar serta berbagai makanan olahan dari ikan,” kata Kepala DKPP Purbalingga, Sediyono.

Pemilihan desa tersebut, dilakukan berdasarkan banyaknya anak stunting, serta kasus kematian ibu dan bayi di wilayah tersebut.

Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purbalingga, angka harapan hidup masyarakat Purbalingga saat ini 72,91 tahun, masih di bawah provinsi Jateng yang mencapai 73 tahun.

Kepala Dinkes Kabupaten Purbalingga, drg. Hanung Wikantono, menyebut, angka kematian ibu dan bayi berpengaruh besar terhadap angka harapan hidup. Sehingga jika angka harapan hidup masih rendah, dipastikan angka kematian ibu dan bayi masih relatif tinggi.

“Peran tenaga medis di tingkat puskesmas sebagai garda terdepan yang berhadapan langsung dengan masyarakat sangat penting untuk bisa meningkatkan angka harapan hidup, dan menekan angka kematian ibu dan anak. Edukasi hidup sehat harus terus dilakukan, termasuk kampanye gemarikan,” pungkasnya.

Lihat juga...