Sejak 2014 PAUD Pelita Hati Sikka Gunakan Rumah Pribadi

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sejak didirikan pada 2014, hingga saat ini sekolah Pendidikan Anak Usi Dini (PAUD) Pelita Hati di Kelurahan Wairotang, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar di rumah pemiliknya.

Pihak sekolah pun telah menyampaikan kendala ini kepada Bupati Sikka, dan diminta untuk membuat surat permohonan untuk pinjam pakai lahan depan lokasi sekolah sekarang yang tidak terpakai untuk membangun sekolah.

“Saya sudah menyampaikan kondisi kami kepada Bupati Sikka, dan diminta untuk membuat surat permohonan,” kata pemilik PAUD Pelita Hati di Kelurahan Wairotang, Maria C.Lilys Supratman, saat ditemui Cendana News di rumahnya, Kamis (15/10/2020).

Lilys mengaku sedang membuat surat permohonan kepada Pemda Sikka, untuk mempergunakan lahan kosong di depan rumahnya untuk membangun gedung sekolah.

Ia pun menyediakan ruang tamu dan satu kamar di rumahnya untuk dipergunakan sebagai ruang kelas, sehingga ia berharap Pemerintah Kabupaten Sikka bisa merelakan sedikit tanah lapang di depan rumahnya untuk membangun gedung sekolah.

“Sekolah kami tidak bisa mendapatkan bantuan alat-alat permainan, karena belum memiliki gedung sekolah sendiri. Saya sudah menyampaikan kepada Bupati Sikka dan diminta membuatkan surat permohonan kepada pemerintah,” ucapnya.

Lilys bersyukur, sekolahnya mendapatkan dana Bantuan Operasional sekolah (BOP) dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olah Raga (PKO) Kabupaten Sikka, meskipun jumlahnya kecil.

“Untuk honor guru, dananya dibayarkan dari Kelurahan Wairotang, sehingga bisa membuat sekolah kami terbantu meskipun jumlahnya masih kecil,” ungkapnya.

Lilys pun mengaku sempat ingin menyerahkan pengelolaan sekolah ini kepada orang lain, mengingat kesibukannya di organisasi Forum Bela Rasa Difabel Nian Sikka (Forsadika) dan mengelola usaha.

Apalagi, kata dia, mengurus sekolah setingkat PAUD lebih banyak bersifat sosial, karena pihaknya tidak mengharapkan iuran dari orang tua murid dan honor guru pun sebulan hanya Rp250 ribu.

“Niat itu urung terlaksana, karena saya merasa terpanggil untuk mengelola sekolah ini, di mana saat pandemi Covid-19 banyak orang tua murid yang mengatakan anak mereka setelah tidak ada beraktivitas di sekolah, merasa seperti kembali ke situasi dahulu sebelum bersekolah,” ungkapnya.

Lilys mengaku mulai mengelola sekolah yang didirikan orang tuanya sejak 2018, dan saat pandemi Corona merebak, banyak orang tua murid menanyakan kapan anak mereka bisa kembali bersekolah lagi.

“Kadang kami melakukan kunjungan ke rumah murid dan kadang orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah, karena sedang situasi Corona jadi tidak boleh berkumpul. Kami bersyukur, karena saat pandemi Corona bisa mendapatkan sedikit dana untuk bantuan membeli pulsa telepon genggam, agar bisa berkomunikasi dengan orang tua murid,“ ucapnya.

Terpisah, Sekda Sikka, Wilhelmus Sirilus, mengatakan, warga yang ingin memanfaatkan lahan pemerintah yang tidak terpakai untuk membangun tempat usaha dan lainnya memang harus membuat surat permohonan kepada pemerintah.

Bila lahan tersedia, maka pemerintah akan memberikannya untuk dipergunakan, apalagi untuk pembangunan gedung sekolah.

“Kalau ada lahan kosoong yang bisa dimanfaatkan untuk membangun sekolah, tentu lebih baik dipergunakan. Apalagi, lahan tersebut tidak terpakai dan memang belum dipergunakan pemerintah dalam waktu dekat,” ungkapnya.

Lihat juga...