Sejenis Tonil

CATATAN RINGAN LUDIRO PRAJOKO

HOBBES bukan presiden dan, ia tidak berdusta.

Leviathan, monster laut yang digambarkan itu, sungguh ada. Bukan raksasa imajiner. Wujudnya: Negara, dengan taring dan cakar mematikan, bagi siapa saja yang tak seturut kehendaknya.  Mereka yang menentang, bukan lagi rakyat, tapi sekadar camilan yang dibuat dari kacang-kacangan yang sewaktu-waktu dapat dikeremus sambil minum teh.

Hobbes seorang lelaki pengutuk anarki, yang ia yakini sebagai bencana kemanusiaan paling menyedihkan. Masyarakat dan kehidupan bersama, menurutnya, amat rapuh. Ia memang hidup pada zaman gaduh penuh bahaya, ketika bangsa Inggris menyelenggarakan perang saudara, yang berakhir dengan digantungnya Raja Charles I.

Dalam pandangan Hobbes, manusia merupakan perwujudan mesin antisosial. Perasaan-perasaan manusiawi merupakan hasil dari rangsangan dunia luar yang ditangkap panca indra, lalu memicu reaksi: mendekat-menerima atau menjauh-menolak objek. Dari sanalah munculnya: cinta-benci, gembira-sedih, baik-buruk, nikmat-sakit, …. Dua tendensi itu terus bertikai dalam diri manusia, lalu memunculkan kehendak.

Kehendak dasar setiap manusia, menurutnya, tak lain untuk memenuhi kepentingannya sendiri: memuaskan hasrat kenikmatan dan mengelakkan rasa sakit. Maka, setiap manusia meniti jalan poros: egoisme dan hedonisme.

Karakter antisosial dalam diri manusia muncul karena usaha memaksimalkan pemenuhan kepentingannya itu. Dalam dunia di mana sumber daya kenikmatan tidak tersedia secara melimpah, manusia berebut, bersaing, saling menundukkan dan menguasai.

Kekuatan, kekuasaan menjadi sarana mutlak. Benturan tak terelakkan. Itulah yang menggiring manusia menuju bellum omnes contra omnia, perang semua melawan semua. Dan, manusia menjadi serigala bagi sesamanya, homo homini lupus.

Tapi, Hobbes bisa mengatasi semua itu, dengan menciptakan negara sebagai Leviathan, kepada siapa setiap serigala menyerahkan hak-hak kodrati dan kekuasaannya.

Baca Juga

Quo Vadis

Membela Siapa?

Pendulum

Negara hanya memiliki hak untuk memaksakan nilai-nilai dan memastikan ketertiban mewujud. Karenanya, negara harus memonopoli penggunaan kekerasan. Tak ada kewajiban bagi, dan negara mesti absolut.

Satu hal saja yang tersisa: agama. Karena, Leviathan tak bisa menelannya sampai habis. Tapi, ia juga tak kehabisan akal, diinjaknya agama itu agar bertahan sebagai tahayul, juga sebagai alat untuk memroduksi rasa takut guna mengukuhkan ketertiban. Agama dipelintir menjadi instrumen politik belaka.

Absolutisme negara Hobbesian amat cocok dengan monarki, di mana kekuasaan mutlak ditangan raja. Demokrasi baginya ibarat barang pecah belah. Gampang pecah, gampang belah. Hanya cocok diterapkan di negara-negara kecil.

Sepenuh hati Hobbes mengingatkan: demokrasi hanya akan menjadi malapetaka bagi negara besar, katakanlah seperti Indonesia. Lalu, Hobbes menyarankan: pemerintah harus absolut. Agar aman, tertib, dan kesejahteraan rakyat melesat layaknya roket.

Bangsa-bangsa beradab, membuang jauh ajaran absolutisme Hobbes. Sebagian dengan cara yang mengerikan. Karena, raksasa selalu saja angkara.

Juga bangsa kita. Anehnya, tak henti bangsa ini meneriakkan demokrasi, menyingkirkan absolutisme. Tak henti juga berbondong-bondong, girang bersorak mengelu-elukan sang Leviathan.

Sejenis tonil yang membuat Hobbes terkekeh-kekeh. ***

Ludiro Prajoko, Aktivis

Lihat juga...