Sekolah Alam Ruang Aksara Atasi Kebosanan Anak di Kala Pandemi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Tikar terhampar di area persawahan, menjadi alas untuk duduk anak-anak di sekolah alam Ruang Aksara Lampung Selatan. Mereka tampak belajar dengan riang, di sela kesibukan mereka mengerjakan tugas belajar secara online yang mulai membuatnya bosan.

Taranita, sang pengajar, menyebut saat cuaca cerah ia dan anak-anak memilih belajar di luar ruangan. Bangunan sekolah alam yang ada di Desa Mekar Mulya, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, juga sedang dalam tahap pembenahan.

Taranita mengatakan, kegiatan sekolah alam merupakan cara mengatasi kebosanan anak kala pandemi Covid-19. Sistem pendidikan alternatif yang dilakukan olehnya, menjadi selingan bagi anak-anak usai mengerjakan tugas dari sekolah.

Sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) masih berlangsung bagi siswa sekolah, membuat anak tetap ingin bersosialisasi.

Taranita, pengajar di Sekolah Alam Ruang Aksara, Desa Mekar Mulya, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Kamis (22/10/2020). -Foto: Henk Widi

Sekolah Alam Ruang Aksara yang digagas bersama Gunawan Wirdana, pemuda di desa tersebut memberi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar. Sejumlah materi yang diberikan, menurut Taranita meliputi bahasa Inggris, pendalaman materi pelajaran sekolah. Konsep sekolah alam berbasis alam semesta dan dekat dengan lingkungan.

“Tujuan sekolah alam Ruang Aksara garis besarnya untuk mengenalkan anak pada lingkungan sekitarnya, lewat eksplorasi langsung di tempat kami berada di dekat area persawahan, kebun dengan saung tanpa sekat,” terang Taranita, saat ditemui Cendana News, Kamis (22/10/2020).

Materi bahasa Inggris, sebut Taranita, dikolaborasikan dengan materi yang ingin disampaikan berkaitan dengan alam. Anak-anak diajarkan mengenal berbagai tanaman buah, sayur, bunga, peternakan dan perikanan. Pengenalan tersebut mendekatkan anak pada alam, sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris melalui kata, kalimat dan percakapan.

Sejumlah kurikulum yang diberikan, sebutnya, tidak jauh berbeda dengan kurikulum yang berlaku nasional. Beberapa materi diberikan meliputi ilmu pengetahuan, kepemimpinan, akhlak yang baik, bermain sambil belajar di alam dan sejumlah kegiatan langsung. Anak-anak dalam sejumlah kesempatan langsung memelihara bunga dan menanam sayuran.

“Saat belajar di sekolah alam, anak lebih ceria, jadi bukan beban, lebih percaya diri, memiliki kepekaan sosial, pandai berkomunikasi, lebih mencintai alam,” bebernya.

Lokasi sekolah alam, sebut Taranita berada di tengah kebun sayuran mentimun, pisang dan kolam ikan. Sementara lokasi sekolah alam digunakan sebagai tempat untuk membuat batu bata, anak-anak bisa belajar di area persawahan. Selain tikar sebagai sarana belajar, ban bekas disulap sebagai kursi dan meja.

Ia mengaku, anak-anak juga diajak mencintai alam. Aktivitas mencintai alam yang telah dilakukan oleh anak-anak, menjadi bentuk menghormati alam. Setiap hari, anak-anak bisa menyetorkan sampah plastik dan kertas bernilai jual. Semua barang bekas bernilai jual tersebut dikumpulkan untuk menjaga kebersihan, sekaligus bernilai ekonomis untuk operasional sekolah alam.

“Konsep yang kami terapkan masih sederhana, karena anak yang berminat masih puluhan, belum banyak,” bebernya.

Aktivitas yang dilakukan pada sekolah alam, sekaligus mengedukasi pentingnya protokol kedehatan. Bagi anak-anak yang akan melakukan aktivitas belajar di sekolah alam, disediakan tempat cuci tangan dengan sabun. Semua anak yang belajar di sekolah alam juga diwajibkan mengenakan masker.

Bagi gadis berusia 28 tahun itu,mengajar di sekolah alam merupakan pengabdian. Berbekal profesinya sebagai bidan yang sempat bekerja di klinik swasta, membuat ia akrab dengan dunia anak-anak. Setelah sementara resign dari tempatnya bekerja, ia memilih mengabdikan diri bagi anak-anak di desanya. Terlebih masa pendidikan sebagai bidan ditempuhnya di Tasikmalaya, Jawa Barat.

“Saya ingin tetap berkarya bagi anak-anak di desa saya, dengan adanya Sekolah Alam Ruang Aksara ini bisa mengajarkan banyak hal,”cetusnya.

Gunawan Wirdana, rekan yang penggagas Sekolah Alam Ruang Aksara menyebut, ide membuat tempat edukasi sudah lama digagasnya. Sebelum ada sekolah alam tersebut, ia telah menggagas Kampung Pelangi yang bertema edukasi. Sebagai pegiat literasi onthel pustaka dengan sepeda, ia memilih membangun sekolah alam di lahan mililknya.

“Saya ajak Taranita untuk mengabdi di kampung halaman, terlebih saat ini kala pandemi, anak tidak belajar di sekolah,”cetusnya.

Memanfaatkan lahan ratusan meter, ia membangun sekolah alam dengan material kayu. Bangunan beratap asbes, kayu kelapa dan kayu jati ambon, dipergunakan membuat sekolah alam. Ruangan terbuka itu sementara digunakan untuk produksi batu bata untuk pagar area sekolah alam. Sebagian dipergunakan untuk kegiatan belajar diselingi aktivitas di area terbuka.

Sekolah Alam Ruang Aksara yang dikembangkan bersama Taranita diharapkan bisa menjadi alternatif. Saat nanti pandemi berakhir, anak-anak tetap memiliki jadwal belajar. Sementara jadwal belajar dalam sepekan dilakukan Senin, Kamis dan Jumat. Jadwal dilakukan tanpa menganggu aktivitas belajar anak-anak.

“Pada sekolah alam kami sediakan juga perpustakaan dengan koleksi buku untuk bacaan saat anak-anak berkunjung,” cetusnya.

Revi, salah satu anak yang belajar di sekolah alam Ruang Aksara mengaku sangat terbantu. Diajar oleh Teteh Tara, sapaan akrab Taranita, dan Aa Gunawan Wirdana, ia bisa mengasah keberanian berbicara bahasa Inggris.

Kegiatan belajar, sebutnya, dilakukan setelah ia dan teman-temannya menyelesaikan tugas sekolah.

Lokasi yang dekat dengan rumah, sebut Revi, membuat orang tua tetap mengizinkan. Kegiatan positif sebagai pengisi waktu luang membuatnya bisa berinteraksi dengan kawan sebaya. Sebab, selama hampir lima bulan lebih, ia hanya melakukan sistem belajar jarak jauh dengan gurunya. Siswa kelas 3 SDN Mekar Mulya itu juga mendapat banyak ilmu baru dari pengajarnya.

Lihat juga...