Sekolah di Aceh Disarankan Menggelar Pembelajaran Tatap Muka

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh, Taqwadin Husien – Foto Ant

BANDA ACEH – Ombudsman RI Perwakilan Aceh menyarankan, sekolah di daerah tersebut menggelar pembelajaran secara tatap muka. Namun kegiatan yang sempat terhenti akibat pandemi COVID-19 tersebut, dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh, Taqwadin Husien mengatakan, pendidikan secara daring membuat anak didik tidak bisa berinteraksi dengan guru dan teman-temannya. “Sekolah perlu dibuka lagi, dan proses belajar mengajar tatap muka kembali berlangsung. Namun, prosesnya tentu menerapkan protokol kesehatan ketat,” katanya, Senin (26/10/2020).

Menurut Taqwaddin, proses belajar mengajar yang kini berlangsung secara daring, tidak bisa diikuti semua peserta didik. Sistem belajar daring juga hanya bisa berjalan di perkotaan. Sedangkan siswa di pedalaman, dengan jaringan terbatas, tidak bisa mengikutinya. “Selain itu, tidak semua peserta didik fokus mengikuti proses belajar mengajar secara daring. Anak didik juga tidak bersemangat, karena tidak berinteraksi dengan guru dan teman-temannya,” katanya.

Taqwaddin mengatakan, proses belajar mengajar daring tidak bisa menggantikan peran guru di kelas. Yang terjadi saat belajar daring, malah banyak peserta didik duduk di warung kopi, dan sibuk bermain game daring. Dengan kondisi seperti itu, proses belajar mengajar secara daring tentu berjalan tidak efektif. Kondisi seperti itu harus dicarikan solusi, seperti membuka kembali sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, sehingga penyebaran COVID-19 di sekolah bisa dicegah.

“Para pengambil kebijakan perlu memahami bagaimana nasib pendidikan anak-anak. Karena itu, sekolah perlu dibuka lagi, tetapi dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Peserta didik yang ikut belajar juga harus benar-benar sehat,” kata Taqwaddin. (Ant)

Lihat juga...