Semarang Waspadai Penyakit DBD

Editor: Koko Triarko

Kadinkes Kota Semarang, Abdul Hakam, saat ditemui di Semarang, Kamis (22/10/2020). –Foto: Arixc Ardana

SEMARANG – Jelang pergantian musim dari kemarau ke penghujan, Dinas Kesehatan Kota Semarang, meminta agar masyarakat lebih waspada pada gangguan kesehatan. Khususnya, untuk penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

“Tren penyakit yang disebarkan nyamuk aedes aegypti ini, biasanya meningkat saat musim pancaroba atau peralihan seperti sekarang ini. Untuk itu, kita minta masyarakat untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M, yakni menguras, menutup dan mengubur wadah bekas atau tidak terpakai, yang bisa menyebabkan air tergenang sebagai sarang nyamuk,” papar Kadinkes Kota Semarang, Abdul Hakam, saat ditemui di Semarang, Kamis (22/10/2020).

Dipaparkan, upaya menjaga kebersihan lingkungan masing-masing, diperlukan agar jentik nyamuk tidak berkembang. Pihaknya juga sudah menyediakan abate, untuk mengendalikan larva nyamuk penyebab DBD, yang bisa didapatkan masyarakat di puskesmas.

Sementara, Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Kota Semarang, Mada Gautama, menjelaskan penderita DBD hingga awal Oktober 2020, jumlahnya mencapai 293 orang.

“Dari angka tersebut, kecamatan Mijen memiliki jumlah tertinggi kasus DBD. Tercatat kecamatan tersebut memiliki 47 penderita DBD,” paparnya.

Pihaknya pun meminta masyarakat untuk mencermati, jika ada anggota keluarga atau diri mereka sendiri yang mengalami gejala awal DBD.

“Umumnya, gejala DBD akan dimulai sekitar empat sampai sepuluh hari setelah mendapat gigitan nyamuk aedes aegypti. Gejala awalnya seperti demam tinggi, nyeri otot, mual muntah, muncul bintik merah pada lengan atau tangan setelah demam tinggi. Jika mengalami gejala tersebut, kita minta masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya,” tambahnya.

Dipaparkan, peningkatan kasus DBD bisa jadi karena faktor lingkungan yang tidak sehat. Terlebih memasuki musim penghujan, ada genangan air yang tidak terperhatikan oleh masyarakat, sehingga menjadi media untuk pertumbuhan jentik nyamuk.

“Untuk itu, PSN harus diperhatikan agar populasi nyamuk tidak meningkat,” terangnya.

Di satu sisi, selain DBD, ancaman penyakit lain yang perlu diperhatikan yakni tuberkulosis atau TBC. Angka penyakit tersebut di Kota Semarang cukup tinggi, ada sebanyak 1.804 penderita.

“Data per Oktober 2020, jumlah penderita TBC di Kota Semarang mencapai 1.804 orang, dengan temuan kasus di puskesmas sebanyak 728 orang dan non-puskesmas sebanyak 1.076 orang,” terangnya.

Dari data tersebut, Kecamatan Pedurungan menempati peringkat tertinggi dengan jumlah kasus dari Januari – Oktober 2020 mencapai 181 kasus, sedangkan TBC aktif pada bulan Oktober 2020 berjumlah 87 kasus.

“Sementara, jika dilihat dari kasus per kelurahan, Kelurahan Tanjungmas di Kecamatan Semarang Utara menjadi kasus kumulatif tertinggi selama 2020 dengan 45 kasus, dengan penderita TBC aktif sebanyak 22 kasus,” pungkas Mada.

Lihat juga...