SEMSINA, Bahas Tantangan Pembangunan Berkelanjutan di Tengah Pandemi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MALANG — Pembangunan di era revolusi industri 4.0 di masa pandemi Covid 19, tentu akan menghadapi banyak tantangan dalam pelaksanaannya yang dituntut harus sesuai tujuan pembangunan berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi digital dan mengikuti protokol kesehatan covid 19.

Ketua pelaksana, Evy Hendriarianti, Dr. ST., M.MT, menjelaskan terkait kegiatan SEMSINA di gedung fakultas, Sabtu (24/10/2020). Foto: Agus Nurchaliq

Melihat tantangan tersebut, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, kembali mengadakan Seminar Nasional Teknik Sipil dan Perencanaan (SEMSINA) 2020 secara daring, sebagai salah satu bentuk kontribusi bagi upaya pembangunan berkelanjutan di era revolusi industri 4.0 dan new normal.

Ketua pelaksana, Evy Hendriarianti, Dr. ST., M.MT, menjelaskan, sebagai akademisi tentunya ingin mempublikasikan hasil risetnya secara luas agar bisa diimplementasikan dalam menjawab berbagai tantangan pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di tengah pandemi memasuki era revolusi industri, dengan tetap mengusung kearifan lokal.

“Jadi dalam kegiatan ini kami ingin mendiseminasi hasil penelitian dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dari para peneliti, dosen, mahasiswa, praktisi umum. Sekaligus memperluas kerjasama dari akademisi, praktisi, pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan kelestarian lingkungan hidup,” terangnya kepada awak media, saat ditemui di gedung fakultas, Sabtu (24/10/2020).

Menurutnya, dengan publikasi hasi riset tersebut, masyarakat akan mengetahui berbagai program dari pemerintah dan teknologi apa saja yang bisa mereka terapkan untuk memecahkan permasalahan yang terjadi.

“Sedikitnya ada 23 pemakalah dari 18 perguruan tinggi dan instansi terkait yang akan mempresentasikan hasil risetnya kepada 261 peserta seminar,” sebutnya.

Sementara itu rektor ITN, Dr.Ir. Kustamar, MT, menyebutkan, konsep triple helix yang menyandingkan teknologi, ekologi dan ekonomi, sangat dibutuhkan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan dalam era revolusi industri 4.0 di masa pandemi Covid 19.

“Kami berkeyakinan bahwa jika teknologi tidak menyentuh ekologi, tidak akan memberikan solusi. Karena hanya akan memindahkan masalah yang nantinya akan bisa muncul kembali,” ujarnya.

Menurutnya, perbaikan ekologi sangat penting, sebab jika kondisi ekologi menjadi lebih baik maka perekonomian juga akan meningkat. Sebaliknya, jika teknologi tidak bisa menjadikan ekologi menjadi lebih baik, maka ekonomi juga tidak akan bisa meningkat sehingga partisipasi masyarakat tentu juga tidak tergerakan.

“Jadi tripel helix teknologi, ekologi dan ekonomi harus dibangun, baru akan terwujud pembangunan yang berkelanjutan di era new normal,” ucapnya.

Lebih lanjut Kustamar berharap supaya melalui seminar berskala nasional tersebut bisa menghasilkan suatu rekomendasi penyelesaian permasalahan pembangunan berkelanjutan.

“Tadi sudah kita coba menggabungkan para pakar dari berbagai bidang, ada yang mewakili perguruan tinggi, pemerintah, dan praktisi agar nantinya bisa menghasilkan sebuah rekomendasi,” pungkasnya.

Lihat juga...