Separuh Lebih Wilayah Dunia Alami Peningkatan Suhu pada Malam Hari

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – iklim dunia dinyatakan berkorelasi dengan selisih suhu antara siang dan malam, yang mempengaruhi pada kelembapan dan aktivitas konvektif, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan atau penurunan hujan.

Studi oleh Cox dkk. (2020) di jurnal Q1 terindeks Scopus Global Change Biology, membuktikan dampak yang ditimbulkan dari perubahan suhu malam hari telah direspons dengan cepat oleh vegetasi dan binatang nocturnal, yaitu yang hanya aktif pada malam hari di berbagai belahan dunia.

Peneliti Sains Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Erma Yulihastin, menyatakan studi yang dilakukan dengan menggunakan data iklim jangka panjang (1983-2017) dengan data per jam tersebut telah berhasil menunjukkan terjadinya peningkatan suhu global mencapai angka yang lebih besar dari 0,5⁰ Celcius.

Peneliti Sains Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Erma Yulihastin, saat dihubungi secara online, Senin (12/10/2020). –Foto: Ranny Supusepa

“Kenaikan suhu global yang signifikan tersebut juga disertai perubahan tiga parameter iklim utama lainnya, yaitu liputan awan, kelembapan relatif dan presipitasi (curah hujan),” kata Erma, saat dihubungi untuk menjelaskan terkait publikasi studi tersebut, Senin (12/10/2020).

Ia memaparkan, dari hasil penelitian tersebut, dinyatakan hampir separuh lebih wilayah di dunia mengalami peningkatan suhu pada malam hari dibandingkan siang hari, termasuk Indonesia.

“Dinyatakan, perubahan suhu malam hari yang lebih hangat yaitu lebih besar dari 0,5⁰ Celcius, dibandingkan siang hari, akan berpengaruh terhadap penambahan kelembapan, peningkatan aktivitas awan, dan berujung pada peningkatan curah hujan,” urainya.

Hal sebaliknya berlaku jika suhu malam hari lebih dingin, yaitu lebih besar dari 0,5⁰ Celcius dibandingkan siang hari, efek yang ditimbulkan akan mengakibatkan curah hujan berkurang, sehingga iklim cenderung lebih kering.

Dalam penelitian tersebut, Erma menyebutkan ada tiga kawasan utama dunia yang mengalami perubahan ekstrem.

“Yaitu, dataran tinggi Tibet, Afrika Barat dan Afrika Timur. Untuk dataran tinggi Tibet dan Afrika barat, suhu malam hari meningkat signifikan menjadi lebih hangat lebih dari 0,5⁰ Celcius, dibandingkan rata-ratanya. Hal ini berakibat pada kelembapan tinggi dan peningkatan curah hujan yang terjadi di kawasan tersebut,” ungkapnya.

Sebaliknya, Afrika timur mengalami kenaikan suhu pada siang hari yang lebih hangat, yaitu lebih dari 0,5⁰ Celcius dibandingkan rata-ratanya.

“Dan, lagi-lagi ini dibuktikan dengan penurunan signifikan curah hujan, sehingga iklim di wilayah tersebut berpotensi menjadi lebih kering dibandingkan sebelumnya,” imbuhnya.

Untuk Indonesia sendiri, walaupun hasil studi tidak secara spesifik membahas tentang Indonesia, Erma menyatakan interpretasi terhadap hasil gambar spasial yang dihasilkan oleh penelitian tersebut menunjukkan, bahwa secara umum Indonesia mengalami kecenderungan suhu malam hari yang lebih hangat.

“Sehingga berpotensi pada peningkatan kelembapan dan aktivitas awan konvektif yang dapat menyebabkan peningkatan hujan. Meskipun demikian, variasi di wilayah Indonesia perlu dieksplorasi lebih detail menggunakan model iklim regional dengan skala spasial yang lebih tinggi, sehingga dapat menjelaskan fakta perubahan suhu siang-malam dengan lebih jelas,” pungkasnya.

Lihat juga...