Sertifikasi Mutu Benih Tanaman Hutan Diperlukan untuk Sediakan Bibit Produktif

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Hamparan tanaman kemiri terlihat tumbuh rindang dan cukup pendek untuk dipanen tanpa alat. Hal tersebut berbeda dari tanaman biasanya, karena berasa dari bibit yang melewati uji laboratorium dan tersertifikasi.

Komarudin, pemilik usaha pembenihan tanaman di Desa Rawi Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyiapkan benih bersertifikat jenis mahoni sebelum disemai, Rabu (6/10/2020). Foto: Henk Widi

Komarudin, pemilik tanaman menyebutkan, varietas tanaman hutan bernama ilmiah Aleurites moluccana itu sejatinya bertajuk tinggi. Namun ia memilih bibit bersertifikat dari sumber benih untuk tanaman indukan.

Pemilik CV Kanza Naura Indah Lestari di Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan itu mengembangkan berbagai bibit tanaman. Komarudin menyebut setiap benih tanaman yang diperoleh dari biji harus menjalani uji laboratorium. Semua jenis biji tanaman berupa pinang, bayur, medang, jengkol, petai, kemiri, nangka, jati, waru gunung dan bibit lain harus diuji.

“Uji laboratorium untuk mutu benih jadi faktor penentu untuk menghasilkan bibit bermutu tanaman hutan, sebab saat ini berbagai jenis tanaman dikembangkan pada hutan produksi, hutan lindung, hutan kemasyarakatan yang bertujuan mendapat hasil buah tanpa menebang pohon,” terang Komarudin saat dikonfirmasi Cendana News di Penengahan, Rabu (7/10/2020).

Sejak awal tahun 2020 masuk siklus pembibitan tahap kelima Komarudin mengaku menyiapkan 900.000 bibit. Puluhan jenis bibit tanaman dikembangkan dengan sistem semai memakai polybag. Media yang digunakan berupa serbuk kayu, serbuk serabut kelapa atau cocopeat, kompos dan pupuk kandang.

“Kesadaran warga untuk menanam meningkat pada tanaman reboisasi bernilai ekonomi, bisa dipanen tanpa menebang pohonnya,” terang Komarudin.

Pilihan bibit berkualitas sebutnya berkaitan dengan kecepatan produksi buah, tinggi tanaman. Pada tanaman kemiri ia mencontohkan sudah bisa berbuah setelah usia tiga tahun. Pada tanaman kemiri hutan biasa tanaman tersebut bisa berbuah setelah enam tahun.

Sunarso, salah satu penanam kemiri menyebutkan, setelah mendapat benih dari Komarudin ia bisa menghasilkan buah kemiri yang cepat panen. Rata rata satu pohon dari total ratusan pohon yang ditanam menghasilkan 50 kilogram.

“Saat ini harga biji kemiri kering pada level petani bisa mencapai Rp15.000 per kilogram dan di pasar bisa mencapai Rp20.000 per kilogram,” terang Sunarso.

Idi Bantara, M.Sc, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) menyebut diperlukan bibit pohon bermutu untuk ditanam pada kawasan hutan.

“KLHK melalui Dirjen DAS mendorong konservasi kawasan sungai terintegrasi dengan kebun produktif bagi warga untuk kelestarian lingkungan namun memberi nilai ekonomis,” beber Idi Bantara.

Konsep agroforestri dan arboretrum dengan penanaman pohon produktif berbasis kehutanan terus ditingkatkan. Penyediaan bibit tanaman yang bersertifikat sebutnya akan menjadi langkah menciptakan sumber benih untuk tanaman berkelanjutan. Kawasan hutan produksi, hutan kemasyarakatan telah dilakukan pada sejumlah kabupaten di Lampung.

Lihat juga...